Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 07 Desember 2025
home global news detail berita

Prof. Din Syamsuddin: Tragedi Palestina dan Sudan Jadi Cermin Pentingnya Gerakan Moral Dunia

nabil Kamis, 06 November 2025 - 16:35 WIB
Prof. Din Syamsuddin: Tragedi Palestina dan Sudan Jadi Cermin Pentingnya Gerakan Moral Dunia
LANGIT7.ID–Jakarta; Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina dan Sudan menjadi cermin betapa dunia kini membutuhkan gerakan moral yang nyata untuk menegakkan keadilan dan perdamaian.

Pesan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) sekaligus Chairman of Global Fulcrum of Wasatiyyat Islam, dalam konferensi pers World Peace Forum (WPF) ke-9 yang akan digelar di Jakarta pada 9–11 November 2025.

Dalam konferensi pers tersebut, Prof. Din menegaskan bahwa konflik di dua wilayah tersebut mencerminkan betapa lemahnya sistem dunia modern dalam menegakkan nilai kemanusiaan.

“Apa yang terjadi di dunia seperti di dua kasus terakhir, Gaza dan Sudan itu sangat memilukan, sangat memprihatinkan dan oleh karena itu menambah dorongan bagi para aktivis perdamaian ini untuk mencari jalan keluar,” ujarnya.

Baca juga: CDCC Gelar World Peace Forum ke-9: Angkat Tema Kolaborasi Wasathiyat Islam dan Tionghoa untuk Perdamaian Dunia

Tragedi yang Menggugah Kesadaran Keadilan Global

Prof. Din menjelaskan bahwa pembicaraan mengenai Palestina dan Sudan dalam forum bukan untuk memperdebatkan posisi politik, melainkan untuk menyoroti krisis moral dan keadilan global yang semakin tajam.

“Walaupun ada tokoh, sesi tokoh, ada sesi penerima Nobel. Maka isu-isu tadi ada ditanyakan juga soal Palestina, Gaza, pasca pertemuan Sharm El Sheikh di Mesir atas prakarsa Donald Trump dan perkembangan terkini di Sudan,” katanya.

Menurutnya, kedua tragedi itu menandakan dunia telah kehilangan arah dalam menjunjung nilai kemanusiaan. Banyak pihak yang mengatasnamakan perdamaian, tetapi gagal menghadirkan keadilan nyata di lapangan.

“Kita tidak secara khusus tetapi pembicaraan kita pada tataran global yang general, dalam, sehingga kita tampilkan pada elemen moral. Di situ posisinya,” jelasnya.

Dunia Butuh Jalan Tengah, Bukan Ekstremitas

Sebagai salah satu inisiator World Peace Forum, Prof. Din memandang bahwa akar dari krisis dunia adalah ekstremitas dan liberalisasi berlebihan dalam ekonomi, politik, dan budaya. Karena itu, forum ke-9 ini mengusung tema “Considering Wasatiyyat and Tionghua for Global Collaboration” yang menekankan jalan tengah (wasatiyyat) sebagai solusi bagi peradaban dunia.

“Sistem dunia itu bertumpu pada humanisme sekuler, akhirnya mendorong liberalisasi ekonomi bebas, liberalisasi politik bebas, liberalisasi budaya. Inilah yang membuat kerusakan dunia dewasa ini,” ungkapnya.

Melalui semangat wasatiyyat Islam, Prof. Din mendorong lahirnya kesadaran moral global agar dunia kembali ke nilai keseimbangan, keadilan, dan kemanusiaan yang universal.

Gagasan “Pasukan Pencegah Perang”

Dalam konteks konflik yang terus berulang, Prof. Din juga mengusulkan gagasan kreatif yang ia sebut war preventing force — pasukan pencegah perang yang berfungsi untuk mencegah konflik sebelum pecah, bukan sekadar menjaga setelah terjadi.

“Kalau menjaga perdamaian susah karena ada yang melanggar, tapi kalau pasukan pencegah perang—war preventing force—kalau ada yang mau menyerang negara lain langsung dia diserang duluan,” ujarnya sambil tersenyum.

Menurutnya, dunia perlu berani berpikir di luar kebiasaan agar tidak terus terjebak dalam siklus kekerasan yang tak berkesudahan.

Gerakan Moral, Bukan Politik

Prof. Din menegaskan bahwa World Peace Forum bukanlah forum politik atau organisasi formal, melainkan ruang moral yang mempertemukan para aktivis perdamaian lintas agama dan bangsa. Tujuannya adalah membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya gerakan moral dalam menghadapi krisis kemanusiaan global.

“WPF World Peace Forum sejatinya dalam bahasa Inggris disebut sebagai rendezvous and venue of engagement, tempat berkumpul dan bertemu dari para aktivis perdamaian di dunia lintas agama lintas bangsa,” tuturnya.

“Kita tidak kemudian bergerak seperti organisasi, apalagi seperti negara, tapi lebih bergerak pada tataran moral menyuarakan pikiran-pikiran tentang perdamaian ini,” lanjutnya.

Bagi Prof. Din, semangat World Peace Forum tidak berhenti di ruang konferensi. Ia menegaskan bahwa seruan untuk peace, justice, and truth harus terus bergema di tengah masyarakat global.

Baginya, menyuarakan kebenaran dan keadilan adalah seperti azan yang tak boleh berhenti — panggilan spiritual agar dunia tidak kehilangan arah moral.

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 07 Desember 2025
Imsak
03:58
Shubuh
04:08
Dhuhur
11:48
Ashar
15:13
Maghrib
18:01
Isya
19:17
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan