LANGIT7.ID-Jakarta; Keterbatasan akses listrik di lokasi bencana menjadi salah satu hambatan terbesar bagi relawan dalam menjalankan tugasnya. Infrastruktur kelistrikan yang lumpuh akibat bencana kerap membuat operasi penyelamatan terganggu, mulai dari komunikasi hingga penggunaan peralatan medis. Menjawab tantangan ini, tim dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ) mengembangkan Portable Mini Battery Energy Storage System (BESS) berbasis panel surya yang dirancang khusus untuk kondisi darurat.
Inovasi ini dipresentasikan dan dilatihkan kepada komunitas tanggap bencana dalam kegiatan bertajuk "Pemberdayaan Komunitas Tanggap Bencana melalui Inovasi Portable Battery Energy Storage System (BESS) Berbasis Panel Surya sebagai Sumber Energi Hijau Darurat" yang digelar di Aula Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Senin (21/4). Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi antara FT UNJ dan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah.
Ketua Pengabdian Masyarakat, Bagus Anggraini, menjelaskan bahwa ketersediaan energi listrik menjadi faktor krusial dalam setiap operasi tanggap darurat. Menurutnya, perangkat ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan yang selama ini kerap terabaikan di lapangan.
"Dalam kondisi darurat, kebutuhan energi listrik sering menjadi kendala utama. Karena itu, kami mengembangkan Portable Mini BESS berkapasitas 720 Wh dan 150 Wh yang mudah dibawa dan digunakan," ujarnya dilansir dari situs Muhammadiyah, Jumat (24/4/2026).
Sistem BESS yang dikembangkan bekerja dengan menyerap energi matahari melalui panel surya dan menyimpannya untuk digunakan kapan pun di lokasi bencana. Perangkat ini mampu mendukung berbagai kebutuhan operasional relawan, mulai dari penerangan, pengisian perangkat elektronik, pengoperasian drone, hingga penggunaan peralatan medis sederhana.
Wakil Sekretaris II MDMC PP Muhammadiyah, M. Abdoel Malik Rizal, menyambut inovasi ini sebagai solusi yang tepat sasaran. Ia menekankan bahwa dukungan energi listrik merupakan kebutuhan mendasar bagi relawan yang bertugas di lapangan.
Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia, Chairul Hudaya, turut memberikan pandangannya terkait relevansi energi surya dalam konteks kebencanaan. Menurutnya, tenaga surya memiliki keunggulan strategis yang sulit digantikan sumber energi lain dalam situasi darurat, mengingat sifatnya yang melimpah, ramah lingkungan, dan tidak bergantung pada jaringan listrik utama.
Perangkat hasil inovasi ini rencananya akan dihibahkan kepada MDMC Muhammadiyah untuk digunakan langsung dalam operasi penanggulangan bencana. Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam menghasilkan riset yang berdampak nyata, bukan sekadar bersifat akademis.
Tim dosen FT UNJ yang terlibat dalam program ini terdiri atas Bagus Anggraini, Akhmad Saufan, Waradzi Mustakim, Radimas Putra Muhammad Davi Labib, Muhammad Fatihuddin, dan Reza Febriano Armas. Program ini didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atas nama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Program EQUITY.
Inisiatif ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 7 tentang energi bersih dan terjangkau serta poin 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan.
(lam)