Komut Bank Syariah Indonesia: Perlu Memperbaiki Proses Bisnis Perbankan Syariah
Zulkarmedi siregar
Rabu, 07 Juli 2021 - 08:08 WIB
Mulya Effendi Siregar, Komisaris Utama PT Bank Syariah Indonesia. Foto: istimewa
Senin, 1 Pebruari 2021 merupakan hari bersejarah bagi perbankan syariah Indonesia. Pada hari itu, Presiden Jokowi, di istana negara, secara resmi me-launching hadirnya Bank Syariah Indonesia (BSI). Lembaga keuangan syariah hasil merger tiga bank syariah BUMN, yakni BRI Syariah, BNI Syariah, dan Mandiri Syariah.
Pasca merger, komposisi pemegang saham pada BSI adalah PT Bank Mandiri 51,2 persen, PT Bank Negara Indonesia 25,0 persen, PT Bank Rakyat Indonesia 17,4 persen, DPLK BRI - Saham Syariah 2 persen dan publik 4,4 persen.
Setelah berjalan empat bulan lebih, seperti apa kinerja BSI dan prospek perbankan syariah di Indonesia? Berikut penjelasan Mulya Effendi Siregar, Komisaris Utama PT Bank Syariah Indonesia kepadaLANGIT7.ID :
Seperti apa perkembangan perbankan syariah hingga kini?
Alhamdulillah, di usianya yang kurang lebih 29 tahun ini, perbankan syariah Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif. Di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini perbankan syariah terus melaju dan sebagian bank syariah telah dapat menempati posisi 30 besar pada perbankan nasional, bahkan saat ini sudah ada yang masuk 10 besar. Hal ini merupakan sinyal bahwa perbankan syariah antara lain pada pos aset, dana pihak ketiga (DPK) dan pembiayaan yang disalurkan (PYD) terus mengalami pertumbuhan positif.
Namun pertumbuhan positif tersebut belum memuaskan ditinjau dari market share yang saat ini sekitar 6,41%. Dilihat dari awal perkembangan perbankan syariah yang dimulai tahun 1992 sampai dengan mencapai market share 5,13% terjadi pada akhir tahun 2016 ketika BPD Aceh dikonversi menjadi Bank Aceh Syariah. Berdasarkan hal tersebut perlu 24 tahun untuk dapat melampaui market share 5%, dengan kenaikan market share rata-rata 0,21% per tahun.
Pasca merger, komposisi pemegang saham pada BSI adalah PT Bank Mandiri 51,2 persen, PT Bank Negara Indonesia 25,0 persen, PT Bank Rakyat Indonesia 17,4 persen, DPLK BRI - Saham Syariah 2 persen dan publik 4,4 persen.
Setelah berjalan empat bulan lebih, seperti apa kinerja BSI dan prospek perbankan syariah di Indonesia? Berikut penjelasan Mulya Effendi Siregar, Komisaris Utama PT Bank Syariah Indonesia kepadaLANGIT7.ID :
Seperti apa perkembangan perbankan syariah hingga kini?
Alhamdulillah, di usianya yang kurang lebih 29 tahun ini, perbankan syariah Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif. Di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini perbankan syariah terus melaju dan sebagian bank syariah telah dapat menempati posisi 30 besar pada perbankan nasional, bahkan saat ini sudah ada yang masuk 10 besar. Hal ini merupakan sinyal bahwa perbankan syariah antara lain pada pos aset, dana pihak ketiga (DPK) dan pembiayaan yang disalurkan (PYD) terus mengalami pertumbuhan positif.
Namun pertumbuhan positif tersebut belum memuaskan ditinjau dari market share yang saat ini sekitar 6,41%. Dilihat dari awal perkembangan perbankan syariah yang dimulai tahun 1992 sampai dengan mencapai market share 5,13% terjadi pada akhir tahun 2016 ketika BPD Aceh dikonversi menjadi Bank Aceh Syariah. Berdasarkan hal tersebut perlu 24 tahun untuk dapat melampaui market share 5%, dengan kenaikan market share rata-rata 0,21% per tahun.