home global news

Solusi Hadapi Anomali Iklim dan Kelangkaan Pangan

Kamis, 03 November 2022 - 14:45 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Sebagian wilayah Indonesia saat ini tengah mengalami kemarau basah. Musim kemarau tahun ini diselingi dengan hujan yang bersifat sporadik dan lebat dengan durasi cepat di beberapa tempat.

Dosen Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan, kemarau basah diakibatkan La Nina yang merupakan kejadian anomali iklim global. Itu ditandai keadaan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur lebih dingin dibanding suhu normal.

Kondisi itu biasanya diikuti perubahan pola sirkulasi walker atau sirkulasi atmosfer arah timur barat. Itu terjadi di sekitar ekuator dan dapat mempengaruhi pola iklim dan cuaca global. Kondisi La Nina dapat berulang dalam beberapa tahun sekali. Setiap kejadian bisa bertahan sampai tahunan.

Baca Juga:UBN: Ancaman Krisis Pangan Harus Terus Dimitigasi

“Setiap kejadian La Nina ini menyebabkan curah dan intensitas hujan semakin besar dan pergeseran periode musim hujan dan kemarau,” ujar Bayu dalam tulisannya di laman resmi UGM, Kamis (3/11/2022).

Menurut Bayu, upaya adaptasi dan mitigasi terkait La Nina bisa memerlukan metode prediksi cuaca secara nasional dan mendetail sampai pada level desa atau lahan. Informasi itu lalu disampaikan ke masyarakat, terutama terkait anomali cuaca.

Selain itu, adaptasi itu juga bisa dilakukan dengan inovasi teknologi. Informasi iklim sangat penting dan krusial. Itu dilakukan untuk menjaga agar kejadian gagal tanam, gagal panen, serta produktivitas pertanian menurun tidak terjadi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
ketahanan pangan perubahan iklim krisis pangan
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya