Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home global news detail berita

Solusi Hadapi Anomali Iklim dan Kelangkaan Pangan

Muhajirin Kamis, 03 November 2022 - 14:45 WIB
Solusi Hadapi Anomali Iklim dan Kelangkaan Pangan
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Sebagian wilayah Indonesia saat ini tengah mengalami kemarau basah. Musim kemarau tahun ini diselingi dengan hujan yang bersifat sporadik dan lebat dengan durasi cepat di beberapa tempat.

Dosen Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho, menjelaskan, kemarau basah diakibatkan La Nina yang merupakan kejadian anomali iklim global. Itu ditandai keadaan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur lebih dingin dibanding suhu normal.

Kondisi itu biasanya diikuti perubahan pola sirkulasi walker atau sirkulasi atmosfer arah timur barat. Itu terjadi di sekitar ekuator dan dapat mempengaruhi pola iklim dan cuaca global. Kondisi La Nina dapat berulang dalam beberapa tahun sekali. Setiap kejadian bisa bertahan sampai tahunan.

Baca Juga: UBN: Ancaman Krisis Pangan Harus Terus Dimitigasi

“Setiap kejadian La Nina ini menyebabkan curah dan intensitas hujan semakin besar dan pergeseran periode musim hujan dan kemarau,” ujar Bayu dalam tulisannya di laman resmi UGM, Kamis (3/11/2022).

Menurut Bayu, upaya adaptasi dan mitigasi terkait La Nina bisa memerlukan metode prediksi cuaca secara nasional dan mendetail sampai pada level desa atau lahan. Informasi itu lalu disampaikan ke masyarakat, terutama terkait anomali cuaca.

Selain itu, adaptasi itu juga bisa dilakukan dengan inovasi teknologi. Informasi iklim sangat penting dan krusial. Itu dilakukan untuk menjaga agar kejadian gagal tanam, gagal panen, serta produktivitas pertanian menurun tidak terjadi.

“Pemasangan teknologi sensor cuaca bisa memberikan informasi kondisi cuaca dan kondisi tanah lahan petani secara realtime dan akurat. Tidak cukup hanya sensor cuaca, tetapi juga diperlukan sensor tanah untuk mengukur tingkat parameter pH, kondisi air, tingkat kesuburan dan suhu tanah,” ujar Bayu.

Baca Juga: Dampak Perubahan Iklim, Hujan Lebat Singkat Langsung Banjir

Setelah itu, data kondisi riil lahan itu dianalisis untuk dibuatkan algoritma untuk memprediksi cuaca ke depan. Setelah diterjemahkan dan diprediksi, diperlukan rekomendasi untuk petani dari hasil analisis data itu.

“Data yang dibaca lewat aplikasi bisa menghasilkan informasi cuaca dan tanah setiap waktu ke petani,” ujar Bayu.

Menyiasati Kelangkaan Pangan

Menurut Bayu, salah satu solusi paling efektif menyiasati kelangkaan pangan adalah menyiapkan swasembada pangan secara berkelanjutan. Itu bisa dilakukan dengan menyiapkan ekosistem-ekosistem pertanian berbasis inovasi teknologi.

Ekosistem pertanian itu adalah sistem pertanian terpadu. Dalam satu lokasi atau desa sudah tersedia penyedia sarana produksi pertanian (saprotan) dan sarana produksi (saprodi) sebagai penyedia input dengan produk-produk yang disepakati ekosistem.

Baca Juga: Perubahan Iklim dalam Islam, Manusia sebagai Khalifah Harus Jaga Bumi

“Keuntungan dalam ekosistem ini adalah kepastian pasar dan mempermudah distribusi saprodi,” ujar Bayu.

Perbankan dan asuransi pertanian juga perlu mendukung dengan menyediakan platform pinjaman atau kredit bagi petani. Lalu, petani disediakan teknologi khusus untuk dimanfaatkan di lahan ataupun penjualan hasil produksi.

“Penerapan teknologi dalam ekosistem ini adalah memberikan kepastian kepada petani dan stakeholder terkait kondisi lahan dan juga informasi komoditas hasil panen,” ujar Bayu.

Sementara, pemerintah memastikan perizinan lancar kegiatan pertanian berbasis teknologi. Dinas terkait menjadi fasilitator sebagai penyedia sarana dan prasarana budidaya pertanian berbasis teknologi.

Baca Juga: Solusi Ekonomi Ala Nabi Yusuf AS dalam Menghadapi Krisis

Kementerian Komunikasi dan Informatika bisa membantu memasang tower sinyal untuk memastikan teknologi Internet of Things (IoT). Pihak swasta atau BUMN/BUMD selaku offtaker bisa menjadi penjamin hasil panen petani terserap secara keseluruhan dengan harga pantas.

“Bila kolaborasi antara ekosistem pertanian dan inovasi teknologi ini terjadi, maka diharapkan bisa membantu proses adaptasi petani dalam menghadapi anomali iklim dan menjaga ketahanan pangan terjaga agar target swasembada pangan tetap tercapai ke depannya,” ujarnya.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)