LANGIT7.ID-MBG konvensional yang dikembangkan sekarang mencapai kurang dari 30 persen, artinya masih 70 persen yang memungkinkan diubah mejadi e MBG yang akan melibatkan ratusan ribu resto dan kafe. Banyak di antaranya milik generasi Z yang sedang tumbuh.
MBG konvensional banyak diinspirasi oleh MBG abad 20 sebelum era internet dan platform pesan antar semaju ini. Di negara tetangga Malaysia MBG yang disebut Bantuan Makanan Bermasak diluncurkan pada 1971. Di India lebih tua lagi sejak 1920 dan 1930. Di Norwegia dikembangkan Oslo Breakfast sejak 1932 dan di Amerika tahun 1940an dikenalkan National School Lunch Program. Mencontoh MBG MBG di berbagai negara tersebut terasa mundur 1 abad.
Dengan membangun platform digital gratis milik pemerintah - untuk membedakan dengan platform digital komersial yang ada yang biayanya sering membebani biaya lebih mahal dari harga pangan nya itu sendiri. E MBG bisa bergerak sangat dinamis misal dalam menyerap anggaran karena dengan platform digital bisa dikonek dengan ratusan ribu kafe dan resto sampai di pedesaan. Manfaat lainnya adalah memberi putaran ekonomi satu lagi yaitu kafe dan resto yang sekarang mengalami kejenuhan over suplai.
Dengan E MBG maka sirkuit yang terbangun adalah sirkuit pemasok seperti ikan daging dan telur, dan berikutnya sirkuit pelaku usaha kafe dan resto yang banyak sepi. Berikutnya sirkuit konsumen dengan E MBG sekolah bahkan anak anak bisa meng klik besok pesan menu apa. Dengan sirkuit konsumen terlibat maka kepuasan MBG makin tinggi.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Memberdayakan TKI dengan ShelterDengan membangun E MBG pemerintah melalu BGN bisa merangkai dari pemasok bahan mentah, pemasok produksi, sampai variasi konsumen. Untuk menghindari kerugian kafe peserta, maka pemilihan menu diklik untuk makan besok hari. Sehingga kafe bisa menyiapkan dengan lebih baik. Kafe yang mendapat order juga bergilir sehingga akan lebih merata dibanding sistem dapur besar konvensional. Klik bisa dilakukan oleh anak yang lebih komplikasi atau sekolah dengan mengambil variasi misal 3 atau 4 jenis menu. Untuk menjaga kesegaran makanan, maka kapasitas per kafe perlu dibatasi sampai dengan 200 pax. Setelah jumlah tercapai pemilih diarahakan kepada kafe lain.
E MBG untuk bahan baru juga memberi sinyal belajar bagi pemasok, misalnya barang apa diperlukan berapa bulan lalu, sehingga bulan ini juga tidak terlalu berbeda. Hal ini akan mengarahkan bisnis pemasok yang perlu dikembangkan.
Dengan memanfaatkan dapur kafe yang sudah ada maka sekitar 20 persen sewa dapur dalam MBG konvensional bisa ditiadakan dan bisa dipergunakan untuk memperbaiki kualitas menu. Tentu saja perlu ditransformasi dari dapur phisik menjadi kantor pengatur lalu lintas digital di setiap wilayah.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Ruang Komiditi Ekonomi Syariah Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Kebijakan Pemerintah Yang Terbuka atau Tertutup?Landasan filosofis dari E MBG terletak pada modernisasi sebagai lambang MBG yang dibangun pada era internet pada paruh 2025. Di samping kemodernan E MBG juga sekaligus memecahkan tema pemerataan dan keadilan, yang sejak lama tak terpecahkan dan makin meningkat saja.
Pada masa masa sulit karena bencana alam E MBG bisa dengan cepat diberi porsi tambahan misalnya dengan mengcover penduduk terdampak. Menggandakan mata rantai pertolongan. Menolong kafe sekaligus menolong korban bencana. Dengan argumen di atas terbukti ternyata ada banyak sisi bisa dikembangkan dengan adanya platform E MBG.(Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)