LANGIT7.ID-Jakarta; Pasar Modal Indonesia mencatatkan sejarah baru. Menutup tahun 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil terbang tinggi ke level 8.646,94 poin atau menguat lebih dari 22 persen. Capaian ini menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk mengejar standar pasar global di tahun 2026.
Optimisme ini terpancar dalam pembukaan perdagangan perdana tahun 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat. Kinerja positif ini tak lepas dari kembalinya kepercayaan investor asing yang mencatatkan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp36,23 triliun di semester kedua tahun lalu.
Baca juga: Ramai 'Influencer' Saham, OJK Siapkan Aturan Ketat Pertengahan 2026: Wajib Punya Izin!Kejar Ketertinggalan Lewat TransparansiMeski mencatatkan rekor, OJK menilai kontribusi pasar saham terhadap PDB Indonesia yang mencapai 72 persen masih perlu digenjot jika dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia (97 persen) dan Thailand (101 persen).
Untuk mengejar hal tersebut, Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dalam sambutannya menekankan strategi utama tahun 2026, yaitu peningkatan integritas pasar. OJK akan mewajibkan transparansi mengenai siapa pemilik manfaat sebenarnya (ultimate beneficial owner) dari perusahaan tercatat. Langkah ini dinilai krusial untuk meminimalisasi transaksi tidak wajar sekaligus menjawab keraguan investor internasional terhadap pasar Indonesia.
Selain itu, OJK bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan BEI tengah mengebut pembangunan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK). Sistem ini disiapkan untuk mendukung perdagangan karbon yang kredibel, transparan, dan sesuai standar global demi mendorong ekonomi hijau.
Peta Jalan Ambisius 2030Sejalan dengan dorongan regulator, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyusun peta jalan (masterplan) pengembangan pasar modal 2026-2030. Fokus utamanya adalah menciptakan pasar yang inovatif dan inklusif.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menjelaskan bahwa BEI tidak hanya ingin pasar tumbuh dari sisi nilai, tetapi juga memiliki daya saing global yang kuat pada tahun 2030.
“Target ambisius ini didukung oleh penguatan infrastruktur pasar, peningkatan kualitas emiten dan investor, serta perluasan partisipasi publik,” kata Iman.
Dengan kombinasi rekor IHSG, aturan transparansi kepemilikan perusahaan yang lebih ketat, serta peta jalan BEI yang matang, pasar modal Indonesia optimis dapat menjadi pilar utama pembiayaan pembangunan nasional di tahun-tahun mendatang.
(lam)