Oleh: Prof. bambang setiaji dan Dr. Suyoto
LANGIT7.ID-Kemana 60 triliun dana restorasi banjir bandang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat ? Jawabnya tergantung dari pilihan proyek yang dibuat, pilihan bahan yang dipakai dan dibeli, serta pertimbangan kompleks sejauh mana para penyelenggara concern terhadap restorasi ekonomi rakyat di sana.
Ekonomi rakyat paska bencana tentu saja hancur karena pertanian dan perikanan, pasar, pabrik pabrik kecil yang menyatu dengan rumah tinggal mereka musnah. Maka dari itu 60 triliun bisa sangat bermakna jika benar diputar untuk membuat proyek yang dibutuhkan oleh rakyat setempat dan bahannya bisa dibuat oleh rakyat setempat. Dana 60 triliun bahkan bisa menjadi berkah ekonomi dari banjir bandang, inna ma’al usri yusra--sesungguhnya di tengah kesulitan ada kesempatan atau kemudahan. Bagaimana menyulap bencana menjadi berkah.
Dan, itulah yang dilakukan oleh Kang Yoto, Bupati Bojonegoro yang terkenal di belahan dunia, World Bank bahkan pernah mengangkat Bojonegoro sebagai pilot proyek kepemimpinan Suyoto yang terkenal dengan “PAVINGISASI” . Paving dibutuhkan untuk keperluan jalan di kampung kampung Bojonegoro, kemudian paving tersebut diproduksi oleh rakyat, dipasang oleh rakyat dengan mudah, untuk membuat jalan rakyat. Bahan baku utama pasir ada dan hanya membutuhkan semen. Bandingkan jika pilihannya jalan ke kampung kampung itu diaspal dengan hadirnya pemborong, maka dana kabupaten yang tidak seberapa akan terkonsentrasi kepada pemborong dan bocor ke luar belanja aspal.
Mirip dengan kasus Bojonegoro dengan proyek “PAVINGISASI” di Aceh dan dua provinsi yang lain bisa dijalankan proyek perumahan dan fasilItas publik dengan bahan dasar lumpur dan kayu. Pilihannya bukan hollow galvanis, dan GRC, tetapi batu bata, kayu kiriman banjir, paving berbahan lumpur, dan genting. Sambil menyelam minum air, yaitu sambil membersihkan lumpur yang menggenang. Para ahli bangunan harus memikirikan pembuatan batu bata, lantai paving dari tanah, dan genting tanah dari lumpur yang dikirim. Secara teknis diperlukan tambahan misalnya kandungan tanah liat terutama untuk genting supaya tidak retak, tetapi untuk paving bata dan dinding bata hal tersebut lebih longgar.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Bila Mas Wapres Berkantor di Papua Dengan pilihan bahan bahan lokal maka 60 triliun akan berputar di tiga propinsi tersebut dan menjadi berkah ekonomi yang cukup menghibur. Untuk kebututhan pangan, obat obatan dan sandang, memperbaiki sekolah sekolah dan jalan kampung semuanya bisa dipikir dengan benar benar local based material. Namun jika tangan dan angan gatal bisa jadi 60 triliun tersebut akan menjadi stimulan impor bahan dari luar propvinsi dan bahkan luar negeri, terutama RRC yang sangat murah. Local content sangat tergantung dari pilihan kebijakan dan kebaikan hati, hal tersebut harus benar benar dipikirkan, memakan waktu sedikit tidak mengapa, sambil memberi nafas fiskal di pemerintahan pusat.
Kang Yoto: Ide ini seperti sama sekali mengabaikan empathy terhadap korban bencana di Sumatra. Ide ini justru disemangati bagaimana mempercepat restorasi dengan menggunakan sebesar besar bahan lokal dengan menggunakan tenaga dan bebisnis lokal.
Peluang pertama datang dari belanja pemerintah yang dikabarkan mencapai 60 trilyun rupiah. Bisa dihitung mata rantai ekonominya. Namun siapa yang akan mendapatkan manfaat dari perputaran ini, sebaiknya diidentifikasi sejak awal. Bagaimana melibatkan mereka yang terdampak apa saja yang perlu diperkuat.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: E MBGBaca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Memberdayakan TKI dengan ShelterKedua, banjir bandang menyediakan bahan kayu dan tanah yang berlimpah. Apa saja produk yang dapat diciptakan dari bahan tersebut. Diperlukan mapping dan pihak pihak mana yang kompeten untuk dilibatkan.
Apa keuntungan sosial dan psikologis dari pelibatan ini terutama atas mereka yang terdampak?
Kapasitas Kepemimpinan dan Managerial macam apa yang diperlukan pemerintah pusat dan lokal? Demikian pertanyaan Kang Yoto.
Semoga tulisan pendek ini menginspirasi, universitas univeristas baik PTN, PTM, dan PTS, khususnya teknik sipil, geografi, geodesi, dan ekonomi pembangunan mintalah sedikit uang pak menteri untuk pergi mengabdi ke bencana Sumatra. ( Prof Bambang Setiaji Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dan Dr Suyoto, Bupati Bojonegoro 2008-2018)
(lam)