LANGIT7.ID-Potensi eknonomi syariah selalu dikaitkan dengan komoditi tertentu. Besaran pasar halal di Indonesia diperkirakan 4.600 triliun setahun meliputi pangan (daging fresh dan olahan), dan snack sebesar 3200 triliun, obat dan Farmasi sebesar 200 triliun, Fashion atau pakaian muslim sebesar 900 triliun dan perjalanan religi sebesar 300 triliun rupiah. Sementara pasar global produk halal diperkirakan sebesar 3,7 triliun USD atau 43.200 triliun rupiah. Pasar halal Indonesia diperkirakan sebesar 10 persen dari pasar halal dunia.
Kebutuhan pasar halal Indonesia ternyata belum bisa dipenuhi, sekitar 12,5 persen kebutuhan tersebut masih diimpor. Kebutuhan impor tersebut berupa daging dan turunannya sebesar 300 triliun, obat dan farmasi sebesar 100 Triliun, pakaian muslim sebesar 85 triliun dan perjalanan religi sebesar 160 triliun. Hal ini merupakan tantangan besar tersendiri yang beririsan dengan keamanan pangan dan sandang. Industri peternakan terutama di luar Jawa masih perlu dirancang bangun ulang, di mana industri peternakan tersebut bisa dikaitkan dengan pemuliaan tanah melalui industri pupuk organik. Mata rantai usaha lainnya seperti industri pakan ternak jagung, kedelai, dan rumput.
Ruang Komoditi
dalam ekonomi Islam tentu saja bukan hanya empat kelompok tersebut. Ekonomi Islam membahas riba dan judi, yang melahirkan bank Islam dan turunannya, serta masalah perjudian yang dampaknya sangat besar dan meliputi kebocoran ekonomi hampir 400 triliun. Kebocoran ini mengenai kelompok papan bawah, dan di menengah atas di pasar spekulasi lebih dari seribu triliun, baik di kripto maupun pasar modal.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Kebijakan Pemerintah Yang Terbuka atau Tertutup? Di sektor riil ruang komoditi dalam ekonomi Islam tentu saja meliputi hampir semua komoditi yang mubah. Tetapi ada satu prinsip dasar yang seharusnya memacu kemajuan luar biasa, yaitu prinsip larangan mubadzir. Lawan dari mubadzir adalah efisien, dan dari prinsip efesien ini terlahir berbagai kemajuan teknologi. Hampir semua kemajuan teknologi berakar dari mencari jalan produksi yang lebih efisien.
Perlombaan tekonologi terkini misalnya dalam kendaraan listrik, kemenangan China berakar dari efisiensi yang kemudian terwujud dalam daya saing harga. Kombinasi upah, produktivitas, dan budaya industri unggul, infra struktur yang murah akibat sokongan negara sentralistik yang ternyata lebih efisien, yang ditafsirkan oleh lawan dagang sebagai tacit dumping atau perang harga terselubung, dan riset unggul di sekitar baterai kering yang merupakan motor utama kendaraan listrik.
Mubadzir dan konterpartnya efisiensi perlu dijadikan visi ekonomi Islam, misalnya universitas universitas Islam sebagai pendorong terhadap kemajuan teknologi. Pada tahap sekarang kontribusi universitas diharapkan berdampak terhadap dunia nyata terutama berbagai industri.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Belum Dibagi Sudah Merata Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Membuat Sektor Informal yang KuatTidak perlu semua universitas langsung masuk pada riset inovasi yang berkait dengan industri tinggi, justru 90 persen riset harus berdampak kepada industri kecil dan bahkan mikro. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki 90 persen dunia usaha kita yang terdiri dari usaha rakyat mikro, kecil, dan menengah.
Ketertinggalan yang 90 persen ini bukan musibah yang harus diratapi, tetapi dengan kaca mata positif adalah kesempatan untuk dibangun. Setiap investasi tentulah lebih tinggi dampaknya pada sektor atau wilayah yang belum berkembang. Dampak marginal dari setiap daya apakah itu riset, inovasi, dan curahan pengembangan, hasilnya lebih besar jika dicurahkan kepada sisi yang belum berkembang. Setiap rupiah dan sumber daya yang dicurahkan untuk pembangunan di daerah terbelakang yang potensial, akan berdampak lebih besar. (Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)