LANGIT7.ID, Jakarta - Nabi Yusuf AS bukan hanya seorang nabi. Dia juga merupakan ekonom yang meletakkan dasar-dasar ilmu ekonomi dalam menghadapi krisis.
“Kalau kita juga belajar dari ekonomi , Al-Qur’an Surah Yusuf, kita tidak kerepotan menghadapi krisis. Itu dikembangkan oleh pemikir-pemikir non-Islam. Sudah diperkenalkan,” kata Ekonom Senior Faisal Basri kepada LANGIT7.ID, Kamis (25/8/2022).
Menurut Faisal Basri, Nabi Yusuf merupakan ekonom pertama yang meletakkan dasar-dasar perencanaan perekonomian. Dalam rentetan kisah Yusuf dalam Al-Qur’an, ada empat dasar perencanaan perekonomian.
Baca Juga: Faisal Basri: Ekonomi Islam Bisa Jadi Solusi Inflasi
Pertama, peningkatan produksi. Ada siklus tujuh musiman kala itu. Tujuh tahun pertama, Yusuf bergiat menanam untuk mendapatkan hasil maksimal. Hasil panen tak dihabiskan secara keseluruhan, tapi disisihkan untuk investasi.
“Jadi, kata Allah itu kepada Nabi Yusuf, kalau kamu panen lagi bagus, gunakan seperlunya, sisanya investasi. Karena ada siklus tujuh tahunan. Nanti tujuh lagi paceklik, tidak kesusahan lagi sudah punya tabungan investasi. Itu diterapkan,” kata Faisal.
Kedua, Nabi Yusuf menerapkan pengendalian konsumsi. Penduduk negeri itu disarankan untuk berhemat atau menabung. Hingga kini, menabung adalah cara yang paling ampuh untuk mengantisipasi datangnya masa-masa sulit.
Ketiga, Nabi Yusuf membuat bank untuk tabungan hasil panen masyarakat. Saat datang masa panceklik, masyarakat bisa mengambil tabungan tersebut untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Masyarakat terbebas dari kelaparan massal dan Mesir menjadi negara termakmur dibandingkan dengan negara-negara lain di sekitarnya. Selain sukses memakmurkan masyarakat, Mesir juga menolong negara-negara lain yang sedang krisis.
Baca Juga: Kapitalisme Barat Alami Krisis, Ekonomi Islam Bisa Jadi Solusi
Keempat, Nabi Yusuf mempersiapkan sarana untuk masa pemulihan. Setelah paceklik, Allah menurunkan hujan sehingga tanah kembali subur. Biji-biji tanaman pokok yang sudah disimpan di bank ditanam kembali, sehingga perekonomian cepat pulih.
“Kalau di Indonesia, enggak. Kalau di Indonesia, negara dapat rezeki banyak dihabiskan, wajib dihabiskan. Nanti kalau krisis bagaimana kalau tidak ada tabungan? Ya utang,” ucap Faisal.
Ada banyak lagi teori-teori ekonomi dasar yang diterapkan Nabi Yusuf. Di antaranya pembayaran sebagai hukum perekonomian, yang berutang harus membayar, dan penerapan hukuman bagi pencuri (koruptor).
(jqf)