Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 19 April 2026
home global news detail berita

Filantropi Jadi Arus Utama Ekonomi Islam, Saudi Tegaskan di Simposium AlBaraka ke-46

sururi al faruq Kamis, 12 Februari 2026 - 14:01 WIB
Filantropi Jadi Arus Utama Ekonomi Islam, Saudi Tegaskan di Simposium AlBaraka ke-46
LANGIT7.ID-Madinah; Arab Saudi tidak lagi memandang filantropi sekadar sebagai kegiatan amal sampingan. Di tengah arus transformasi ekonomi Visi Saudi 2030, sektor kebajikan justru ditempatkan sebagai pilar utama pembangunan berkelanjutan dalam sistem ekonomi Islam.

Pernyataan tegas itu disampaikan Ketua Dewan Pembina AlBaraka Forum for Islamic Economy, Abdullah Saleh Kamel, dalam Simposium Ekonomi Islam AlBaraka ke-46 yang berlangsung di Universitas Prince Mugrin, Madinah, pada 9–11 Februari 2026.

"Pembangunan yang sejati dan berimbang tidak akan tercapai jika sektor kebajikan hanya diposisikan sebagai pelengkap. Filantropi harus menjadi fondasi, bukan sekadar hiasan," ujar Abdullah dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.

Simposium tahunan yang mengusung tajuk “The Righteousness and Benevolence in Islamic Economy: The Future Forward” ini digelar di bawah naungan Gubernur Wilayah Madinah, Yang Mulia Pangeran Salman bin Sultan bin Abdulaziz. Pemilihan lokasi di Madinah bukan tanpa alasan: kota ini adalah saksi bisu lahirnya praktik ekonomi Islam perdana, ketika wakaf, infak, dan kebajikan pertama kali dilembagakan sebagai nilai pembangunan.

Dari Perbankan Syariah ke Ekonomi Kebajikan Terpadu

Dalam dua dekade terakhir, AlBaraka dikenal sebagai salah satu motor penggerak lahirnya instrumen keuangan syariah modern, seperti perbankan Islam dan sukuk. Namun, Abdullah menegaskan bahwa era baru membutuhkan lompatan pendekatan.

“Kita perlu meninggalkan pendekatan parsial. Jalur terpadu yang menyatukan ekonomi kebajikan, penguatan modal sosial, serta peneguhan etika dan nilai harus menjadi arsitektur baru sistem ekonomi Islam,” jelasnya.

Tiga jalur strategis yang diusulkan mencakup pengembangan instrumen keuangan sosial seperti sukuk dan takaful, integrasi teknologi keuangan digital, serta penguatan sektor nirlaba sebagai lokomotif pembangunan.

Model Saudi: Sektor Nirlaba yang Produktif

Salah satu sorotan utama dalam simposium ini adalah keberhasilan Arab Saudi dalam mentransformasi sektor nirlaba menjadi kekuatan produktif. Melalui Visi Saudi 2030, kerajaan tidak hanya membangun kota futuristik, tetapi juga merombak tata kelola amal menjadi ekosistem ekonomi yang terukur.

Hal ini pula yang coba ditonjolkan melalui pemutaran film pendek bertajuk “The Economy of Righteousness and Benevolence: Giving That Creates Lasting Impact.” Film ini menelusuri perjalanan wakaf pertama di Madinah hingga transformasi digital sektor nirlaba di era modern—sebuah narasi bahwa memberi bukan hanya tentang kepedulian, tetapi juga kecerdasan ekonomi.

Kolaborasi Akademik dan Pengakuan Global

Di sela-sela simposium, Pangeran Salman turut menyaksikan penandatanganan tiga nota kesepahaman strategis antara AlBaraka Forum dan sejumlah institusi pendidikan terkemuka: Universitas Islam Madinah, INCEIF University, serta Universitas King Abdulaziz melalui Institute of Islamic Economics.

Kerja sama ini dirancang untuk memperkuat riset lintas kampus, pengembangan sumber daya manusia, dan integrasi keilmuan ekonomi Islam yang selaras dengan kebutuhan pembangunan kontemporer.

Sementara itu, Mufti Agung Republik Tunisia, Sheikh Hisham bin Mahmoud, menyebut penyelenggaraan simposium di Madinah sebagai simbol keberlanjutan nilai-nilai kebajikan Islam. Ia menyoroti semangat gotong royong kaum Muhajirin dan Ansar sebagai prototipe aksi kemanusiaan yang juga bernilai ekonomi.

“Arab Saudi, di bawah kepemimpinan Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, telah menghidupkan kembali ruh solidaritas itu dalam bingkai pembangunan modern,” ujarnya.

Ekonomi Islam Tak Lagi Sektoral

Simposium AlBaraka ke-46 ini menjadi penanda penting: ekonomi Islam tidak lagi dimaknai sempit sebagai urusan perbankan tanpa bunga. Kini, filantropi, riset, digitalisasi, dan kebijakan publik berjalan beriringan.

Arab Saudi, melalui forum ini, menunjukkan ambisinya untuk tidak hanya menjadi pusat keuangan syariah global, tetapi juga laboratorium dunia bagi ekonomi kebajikan yang berdampak nyata dan terukur.(*/saf/ant)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 19 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)