Kisah Ramla Ali dari Pengungsi Somalia, Korban Bullying, hingga Atlet Tinju
Nursalam
Selasa, 08 November 2022 - 09:02 WIB
Petinju Muslim, Ramla Ali. Foto: Istimewa
Ramla Said Ahmed Ali atau Ramla Ali merupakan model sekaligus petinju profesional muslim kelahiran 16 September 1989. Ramla Ali menjadi muslimah pertama Somalia yang memenangkan kejuaraan tinju wanita profesional di Arab Saudi.
Sebelum mencapai pencapaian yang besar, Ali besar di Somalia. Perang saudara yang terjadi di negara tersebut, membuat kedua orang tuanya memutuskan untuk mengungsi. Terlebih setelah melihat saudara laki-laki Ali yang terkena bom tak jauh dari kediaman mereka.
Baca juga: Berganti Nama Malik Abdul Aziz, Ini Kisah Petinju 'Leher Beton' Jadi Mualaf
Keluarga Ali pun mengungsi ke Kenya menggunakan perahu selama sembilan hari, sebuah perjalanan yang dipenuhi dengan kenangan traumatis. Hingga pada akhirnya, Ali dan keluarga memutuskan tinggal di Whitechaple, London Timur.
Dalam salah satu wawancara, Ali menceritakan bagaimana perjalanan mengungsi membuat dirinya merasa dekat dengan kematian. Saat itu, cerita Ali, para pengungsi harus berbagi sepotong gula untuk mengurangi rasa lapar.
"Saya pun terkena kutu rambut dan salah satu penumpang menyuruh ibu saya untuk memberikan racun tikus ke dalam rambut saya, agar penyakit kutu rambut itu dihilangkan. Pada peristiwa itu, keadaan saya tidak membaik sehingga membuat ibu saya ketakutan akan kehilangan salah satu anaknya lagi," kisah Ali.
Sebagai mantan pengungsi, Ali pun merasakan masalah yang dialami para imigran dari negara konflik lain, yaitu tidak mempunyai tanggal lahir yang valid.
Sebelum mencapai pencapaian yang besar, Ali besar di Somalia. Perang saudara yang terjadi di negara tersebut, membuat kedua orang tuanya memutuskan untuk mengungsi. Terlebih setelah melihat saudara laki-laki Ali yang terkena bom tak jauh dari kediaman mereka.
Baca juga: Berganti Nama Malik Abdul Aziz, Ini Kisah Petinju 'Leher Beton' Jadi Mualaf
Keluarga Ali pun mengungsi ke Kenya menggunakan perahu selama sembilan hari, sebuah perjalanan yang dipenuhi dengan kenangan traumatis. Hingga pada akhirnya, Ali dan keluarga memutuskan tinggal di Whitechaple, London Timur.
Dalam salah satu wawancara, Ali menceritakan bagaimana perjalanan mengungsi membuat dirinya merasa dekat dengan kematian. Saat itu, cerita Ali, para pengungsi harus berbagi sepotong gula untuk mengurangi rasa lapar.
"Saya pun terkena kutu rambut dan salah satu penumpang menyuruh ibu saya untuk memberikan racun tikus ke dalam rambut saya, agar penyakit kutu rambut itu dihilangkan. Pada peristiwa itu, keadaan saya tidak membaik sehingga membuat ibu saya ketakutan akan kehilangan salah satu anaknya lagi," kisah Ali.
Sebagai mantan pengungsi, Ali pun merasakan masalah yang dialami para imigran dari negara konflik lain, yaitu tidak mempunyai tanggal lahir yang valid.