LANGIT7.ID - , Jakarta - Ramla Said Ahmed Ali atau
Ramla Ali merupakan model sekaligus
petinju profesional muslim kelahiran 16 September 1989. Ramla Ali menjadi muslimah pertama
Somalia yang memenangkan kejuaraan tinju wanita profesional di
Arab Saudi.
Sebelum mencapai pencapaian yang besar, Ali besar di Somalia. Perang saudara yang terjadi di negara tersebut, membuat kedua orang tuanya memutuskan untuk mengungsi. Terlebih setelah melihat saudara laki-laki Ali yang terkena bom tak jauh dari kediaman mereka.
Baca juga: Berganti Nama Malik Abdul Aziz, Ini Kisah Petinju 'Leher Beton' Jadi MualafKeluarga Ali pun mengungsi ke Kenya menggunakan perahu selama sembilan hari, sebuah perjalanan yang dipenuhi dengan kenangan traumatis. Hingga pada akhirnya, Ali dan keluarga memutuskan tinggal di Whitechaple, London Timur.
Dalam salah satu wawancara, Ali menceritakan bagaimana perjalanan mengungsi membuat dirinya merasa dekat dengan kematian. Saat itu, cerita Ali, para
pengungsi harus berbagi sepotong gula untuk mengurangi rasa lapar.
"Saya pun terkena kutu rambut dan salah satu penumpang menyuruh ibu saya untuk memberikan racun tikus ke dalam rambut saya, agar penyakit kutu rambut itu dihilangkan. Pada peristiwa itu, keadaan saya tidak membaik sehingga membuat ibu saya ketakutan akan kehilangan salah satu anaknya lagi," kisah Ali.
Sebagai mantan pengungsi, Ali pun merasakan masalah yang dialami para
imigran dari negara konflik lain, yaitu tidak mempunyai tanggal lahir yang valid.
"Ketika memperoleh paspor, Anda harus memilih tempat tinggal, jadi dapat dikatakan, bahwa saya memiliki “tanggal lahir/ ulang tahun” – namun sebenarnya saya memiliki dua paspor dengan tanggal lahir yang berbeda. Dengan seiring bertambahnya umur, kami sekeluarga tidak benar-benar melakukan acara ulang tahun," lanjutnya.
Baca juga: Tina Rahimi Petinju Berhijab Australia Dengarkan Murottal Sebelum TandingMeski begitu tidak merayakan pesta ulang tahun, Ali mengaku selalu menerima hadiah.
Menyinggung olahraga tinju yang digeluti, Ali mengungkapkan bahwa semua anggota keluarga tidak mendukung pilihannya itu. Menurut Ali, keluarganya berpendapat perempuan tidak seharusnya bertinju.
Dibalik pilihannya sebagai petinju, keputusan tersebut berangkat dari pengalaman buruk Ali saat menyesuaikan hidup di Inggris. Ali mendapat perudungan di sekolah karena berat badan yang berlebih. Dari sini awal mula ketertarikan Ali dengan olahraga keras ini.
"Saya memulai untuk mengunjungi gym dan memakan makanan yang sehat, dan dalam dua tahun, berat badan saya turun dari 82kg ke 60kg. Pada momen itu saya berhasil melakukan latihan pertama kelas tinju dan berakhir dengan latihan di dalam ring," lanjut Ali.
Keluarga yang mengetahui pun sempat menentang Ali dan memintanya untuk berhenti. Kejadian tersebut membuat hati Ali hancur, hingga akhirnya dia memutuskan untuk bekerja di salah satu kantor hukum.
Namun, Ali mengaku tak menikmati masa itu. Pada akhirnya, Ali memutuskan untuk bertinju lagi, meski di tengah jalan berhenti lagi. Proses tersebut terus berulang, sampai akhirnya Ali menentukan untuk serius pada profesi petinju.
Baca juga: Rana Dajani, Ilmuwan Muslimah Paling Berpengaruh di DuniaKeseriusan Ali pun berbayar dengan keikutsertaannya di berbagai kejuaraan tinju. Di antaranya mewakili Somalia saat Olimpiade Tokyo 2020.
Sisi Lain Ramla Ali
Di luar ring tinju, Ali berubah profesi menjadi seorang model. Dia pun membintangi sejumlah merek terkenal seperti Nike dan Pantene di tahun 2019. Dia pun sempat dipilih menjadi model Meghan Markles dalam proyek "Forces for Change".
Ali juga pernah didapuk untuk mewakili Unicef di Jordan untuk mengunjungi kamp pengungsi Syria.
“Sebagai anak yang dulu merupakan seorang pengungsi, saya berharap dengan menceritakan pengalaman saya, dapat membantu sedikit permasalahan mereka, namun apapun yang telah saya capai, saya tidak bisa membandingkan hal tersebut kepada para pahlawan yang sudah pernah saya temui,” kata Ramla Ali dikutip dari Staylist.co.uk, Senin (7/11/2022).
Ali melihat pemilihan dirinya sebagai wakil Unicef bukan tanpa alasan. Apalagi bila melihat latar belakang dirinya yang mantan pengungsi, kehilangan keluarga akibat perang, korban perudungan di sekolah, hingga adaptasi dirinya di Inggris sebagai imigran.
Baca juga: Ustadzah Erika: Muslimah Tak Berkewajiban Mencari Nafkah"Hal tersebut yang membuat saya menjadi seperti sekarang. Maka saya yakin, saya mempunyai pandangan yang unik ketika berbicara mengenai banyak topik yang nantinya akan didukung oleh Unicef. Akan tetapi pencapaian saya dalam bertinju atau modelling terjadi oleh keyakinan yang didapat melalui pembelajaran dari orang-orang yang saya temui selama perjalanan hidup," tukas Ali.
(est)