Mengenang Abdoel Moeis, Pahlawan Nasional Pertama di Indonesia
Hasanah syakim
Kamis, 10 November 2022 - 07:00 WIB
Abdoel Moeis (foto: twitter/penerbitkpg)
Gelar pahlawan bagi pejuang kemerdekaan mulai digelar pertama kali tahun 1959 oleh presiden pertama Ir. Soekarno. Gelar ini diberikan agar prakarsa-prakarsa tersebut, dapat memperkuat ideologi persatuan bangsa Indonesia.
Gelar pahlawan pertama diberikan kepada Abdoel Moeis. Seorang pejuang, sastrawan, politikus, dan wartawan Indonesia. Abdul Moeis merupakan Pengurus Besar Sarekat Islam, dan anggota Volksraad atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 1918.
Dilansir dari akun YouTube Prolog, Abdoel Moeis mewakili organisasi Sarekat Islam di Volksraad. Abdoel Moeis sendiri lahir di Sungai Puar, Agam, Bukittinggi, Sumatera Selatan pada 3 Juli 1883.
Abdoel Moeis merupakan seorang asli Minangkabau putra dari Datuk Tumanggung Sultan Sulaiman. Ayahnya merupakan seorang Demang yang saat itu keras menentang kebijakan Belanda di dataran tinggi Agam.
Baca juga:Kisah Awal Perjuangan Bung Tomo Mengomandoi Arek-arek Suroboyo
Setelah berhasil menempuh pendidikan di ELS, Sekolah Dasar di zaman Hindia Belanda. Abdoel Moeis melanjutkan pendidikannya ke Stovia, Sekolah Kedokteran atau saat ini dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Namun, karena sakit membuat Abdoel Moeis tidak dapat menyelesaikan pendidikannya. Abdoel Moeis kemudian memulai karirnya senagai juru tulis di Departemen Pendidikan Ibadah dan Industri Kerajinan, Hindia Belanda atas bantuan Mister Abendanon.
Gelar pahlawan pertama diberikan kepada Abdoel Moeis. Seorang pejuang, sastrawan, politikus, dan wartawan Indonesia. Abdul Moeis merupakan Pengurus Besar Sarekat Islam, dan anggota Volksraad atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 1918.
Dilansir dari akun YouTube Prolog, Abdoel Moeis mewakili organisasi Sarekat Islam di Volksraad. Abdoel Moeis sendiri lahir di Sungai Puar, Agam, Bukittinggi, Sumatera Selatan pada 3 Juli 1883.
Abdoel Moeis merupakan seorang asli Minangkabau putra dari Datuk Tumanggung Sultan Sulaiman. Ayahnya merupakan seorang Demang yang saat itu keras menentang kebijakan Belanda di dataran tinggi Agam.
Baca juga:Kisah Awal Perjuangan Bung Tomo Mengomandoi Arek-arek Suroboyo
Setelah berhasil menempuh pendidikan di ELS, Sekolah Dasar di zaman Hindia Belanda. Abdoel Moeis melanjutkan pendidikannya ke Stovia, Sekolah Kedokteran atau saat ini dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Namun, karena sakit membuat Abdoel Moeis tidak dapat menyelesaikan pendidikannya. Abdoel Moeis kemudian memulai karirnya senagai juru tulis di Departemen Pendidikan Ibadah dan Industri Kerajinan, Hindia Belanda atas bantuan Mister Abendanon.