home wirausaha syariah

Syariat Islam Membuat Usaha Puspo Wardoyo Berkembang, Buka Cabang Hingga Arab Saudi

Rabu, 07 Juli 2021 - 10:36 WIB
Salah satu gerai usaha Puspo Wardoyo. Foto: Twitter Wong Solo
Sebelum mendapatkan model bisnis yang ideal seperti sekarang, pengusaha kuliner Puspo Wardoyo memulainya dengan berdarah-darah. Ia merangkai bisnisnya dengan banyak uji coba, gagal-cari modal-gagal, cari modal.

Suatu waktu, temannya yang berjualan bakso di Medan pulang ke Solo, sang sahabat menyarankan agar berjualan ke Medan. Prospek bisnis rumah makan di kota itu sangat baik, kata sang teman. Ia tertarik dengan ajakan kawannya itu.

Untuk mendapatkan modal, ia menjadi guru, di daerah Bagan Siapi-api, Riau. Warung makan miliknya ia tinggalkan. Puspo mempercayakan pengelolaan warungnya pada seorang kerabat. Selama duan tahun mengajar, 1989-1991, terkumpul uang sekitar Rp2.400.000.

Dengan uang itu ia membeli motor dan sewa rumah kontrakan. Sisanya sekitar Rp 700.000 dipergunakan untuk modal jualan ayam bakar. Puspo lantas membuka warung kaki lima berlabel “Ayam Bakar Wong Solo” di belakang bandara Polonia, Medan.

Puspo tidak memperdulikan omelan mertua dan istrinya: Rini Purwati alumni Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada dan juga sebagai dosen Universitas Sumatera Utara. Mertua Puspo jengkel, bahkan titip pesan nyelekit pada istrinya: bahwa tindakan membuka warung pinggir jalan itu memalukan.

Awal usahanya berjalan kurang baik, jika hari hujan ayam-ayamnya tidak laku. Tetapi Puspo pantang menjual ayam sisa keesokan harinya, karena pentingnya menjaga kualitas dagangan dalam berusaha.

Warungnya maksimal menjual 7 ekor dengan omset Rp 35 ribu hari. Saat tiga bulan pertama Puspo hanya dapat menjual 3 ekor ayam dan masih sering tersisa. Namun, keteguhan hatinya lebih baik membuka lapangan kerja dari pada mencari kerja.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
wirausaha syariah kuliner umkm
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya