Resmikan Serambi Buya Syafii, Muhammadiyah: Langkah Pembuka Ilmu
Mahmuda attar hussein
Jum'at, 11 November 2022 - 12:30 WIB
Muhammadiyah Resmikan Serambi Buya Syafii. (Foto: Istimewa).
Muhammadiyah meresmikan Serambi Buya Syafii. Tempat ini merupakan rumah peninggalan Buya Ahmad Syafii Maarif di Jalan Halmahera, Gamping, Sleman.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, tempat tersebut berisi koleksi karya buku Buya Syafii dan akan menjadi kunci pembuka ilmu.
“Serambi ini sebagai kunci pembuka ilmu, pembuka dunia dan cakrawala hidup bagi siapapun yang datang ke rumah ini. Buya telah tiada tetapi jejak hidupnya selalu hidup bersama kita,” ungkapnya.
Baca Juga: Muhammadiyah Bakal Beli Gereja di Spanyol untuk Dijadikan Masjid
Haedar berharap, Serambi Buya Syafii dapat menjadi wahana bagi anak muda untuk mengenal sosok Buya Syafii melalui koleksi karyanya. Apalagi, Buya Syafii adalah sosok dengan pemikiran besar yang inklusif.
“Kerangka berpikir dan argumennya kuat, jadi tidak pada personal. Dan tidak bersifat mendiskreditkan orang,” ungkapnya.
Dari mengenal Buya Syafii, lanjut dia, generasi muda akan mampu mempelajari dan mempraktikkan kritik dengan ilmu, subjektivitas, dan bukan dengan kemarahan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, tempat tersebut berisi koleksi karya buku Buya Syafii dan akan menjadi kunci pembuka ilmu.
“Serambi ini sebagai kunci pembuka ilmu, pembuka dunia dan cakrawala hidup bagi siapapun yang datang ke rumah ini. Buya telah tiada tetapi jejak hidupnya selalu hidup bersama kita,” ungkapnya.
Baca Juga: Muhammadiyah Bakal Beli Gereja di Spanyol untuk Dijadikan Masjid
Haedar berharap, Serambi Buya Syafii dapat menjadi wahana bagi anak muda untuk mengenal sosok Buya Syafii melalui koleksi karyanya. Apalagi, Buya Syafii adalah sosok dengan pemikiran besar yang inklusif.
“Kerangka berpikir dan argumennya kuat, jadi tidak pada personal. Dan tidak bersifat mendiskreditkan orang,” ungkapnya.
Dari mengenal Buya Syafii, lanjut dia, generasi muda akan mampu mempelajari dan mempraktikkan kritik dengan ilmu, subjektivitas, dan bukan dengan kemarahan.