Bubur Syuro Pitun Rupa, Tradisi Sambut 10 Muharram ala Makassar
Andi amriani
Kamis, 19 Agustus 2021 - 11:18 WIB
Bubur syura pitun (tujuh) rupa khas Makassar ditata di karpet menunggu didoakan imam masjid sebelum dibagikan kepada saudara dan tetangga Foto: Langit7.id/andi amriani
Sudah menjadi tradisi masyarakat di Makassar, dalam menyambut 10 muharram mereka membuat tujuh macam bubur yang diistilahkan bella pitun rupa (Bubur Syuro).
Di antaranya, bubur ketan hitam, bubur santan putih, bubur kacang hijau, dan bubur labu. Untuk bubur santan dihias beragam buah-buahan dan lauk pauk. Hiasan tersebut sengaja diberikan beragam warna sehingga kelihatan indah.
Membuat bubur pitun rupa merupakan tradisi turun temurun yang saat ini masih terus dibudayakan oleh sebagian masyarakat Bugis-Makassar.
Tradisi itu dipercaya sebagai ucapan rasa syukur terhadap kemenangan nabi Muhammad dalam menyebarkan ajaran Islam.
Pembuatan bubur menyambut kedatangan 10 Muharram biasanya sudah dipersiapkan sejak tiga hari. Beras yang hendak dibuat bubur sudah dibersihkan dan dicuci sehari sebelumnya. Begitu pula dengan bahan-bahannya.
Salah satu warga yang setia dengan tradisi itu yakni Sugiati Dg. Sunggu yang saban tahun pada 10 Muharram membuat bubur tersebut. Hingga kini, terhitung sudah 40 tahun dia membuat bubur tujuh macam.
Ia menuturkan aktivitas membuat bubur menyambut 10 muharram dilakukan oleh buyutnya, kemudian turun ke nenek dan diteruskan oleh orang tuanya. Karena orang tuanya sudah meninggal, maka dialah yang melanjutkannya.
Di antaranya, bubur ketan hitam, bubur santan putih, bubur kacang hijau, dan bubur labu. Untuk bubur santan dihias beragam buah-buahan dan lauk pauk. Hiasan tersebut sengaja diberikan beragam warna sehingga kelihatan indah.
Membuat bubur pitun rupa merupakan tradisi turun temurun yang saat ini masih terus dibudayakan oleh sebagian masyarakat Bugis-Makassar.
Tradisi itu dipercaya sebagai ucapan rasa syukur terhadap kemenangan nabi Muhammad dalam menyebarkan ajaran Islam.
Pembuatan bubur menyambut kedatangan 10 Muharram biasanya sudah dipersiapkan sejak tiga hari. Beras yang hendak dibuat bubur sudah dibersihkan dan dicuci sehari sebelumnya. Begitu pula dengan bahan-bahannya.
Salah satu warga yang setia dengan tradisi itu yakni Sugiati Dg. Sunggu yang saban tahun pada 10 Muharram membuat bubur tersebut. Hingga kini, terhitung sudah 40 tahun dia membuat bubur tujuh macam.
Ia menuturkan aktivitas membuat bubur menyambut 10 muharram dilakukan oleh buyutnya, kemudian turun ke nenek dan diteruskan oleh orang tuanya. Karena orang tuanya sudah meninggal, maka dialah yang melanjutkannya.