LANGIT7.ID, Makassar - Sudah menjadi tradisi masyarakat di Makassar, dalam menyambut 10 muharram mereka membuat tujuh macam bubur yang diistilahkan bella pitun rupa (Bubur Syuro).
Di antaranya, bubur ketan hitam, bubur santan putih, bubur kacang hijau, dan bubur labu. Untuk bubur santan dihias beragam buah-buahan dan lauk pauk. Hiasan tersebut sengaja diberikan beragam warna sehingga kelihatan indah.
Membuat bubur pitun rupa merupakan tradisi turun temurun yang saat ini masih terus dibudayakan oleh sebagian masyarakat Bugis-Makassar.
Tradisi itu dipercaya sebagai ucapan rasa syukur terhadap kemenangan nabi Muhammad dalam menyebarkan ajaran Islam.
Pembuatan bubur menyambut kedatangan 10 Muharram biasanya sudah dipersiapkan sejak tiga hari. Beras yang hendak dibuat bubur sudah dibersihkan dan dicuci sehari sebelumnya. Begitu pula dengan bahan-bahannya.
Salah satu warga yang setia dengan tradisi itu yakni Sugiati Dg. Sunggu yang saban tahun pada 10 Muharram membuat bubur tersebut. Hingga kini, terhitung sudah 40 tahun dia membuat bubur tujuh macam.
Ia menuturkan aktivitas membuat bubur menyambut 10 muharram dilakukan oleh buyutnya, kemudian turun ke nenek dan diteruskan oleh orang tuanya. Karena orang tuanya sudah meninggal, maka dialah yang melanjutkannya.
“Saya sudah 40 tahun menyambut 10 Muharram dengan tradisi membuat bubur syurah. Saya buat bubur 41 piring ,” ujarnya.
Dia mengenang dulu orang tuanya membuat bubur dengan jumlah cukup banyak sekitar 100 piring. Tetapi kini ia hanya membuat kurang dari setengah. Bubur tersebut ditata di atas piring kemudian di susun di atas karpet.
![Bubur Syuro Pitun Rupa, Tradisi Sambut 10 Muharram ala Makassar]()
Ada gelas air putih di setiap piring. "Kalau sudah diatur seperti ini, kita tunggu imam masjid berdoa untuk keselamatan,"katanya.
Kebiasaan dari nenek moyangnya ini sudah berjalan sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Sebagai generasi penerus, ia merasa tidak nyaman dan tidak wajar jika tradisi tersebut tidak dilanjutkannya. Atas dasar itulah ia sengaja menyisihkan uangnya untuk membeli bahan membuat bubur syurah.
Bubur yang sudah dibacakan doa itu kemudian dibagikan ke seluruh sanak keluarga dan para tetangga, dengan harapan berbagi kebaikan dengan yang lain. Tujuan agar tak memikirkan keselamatan diri sendiri tetapi juga mendoakan keselamatan keluarga dan para tetangga.
Dg. Sunggu juga mengaku kerap kali mendengar cerita dari neneknya bahwa tujuan merayakan 10 Muharram dengan membuat bubur syuro ini, sebagai bentuk tolak bala, agar seluruh keluarga dijauhkan dari marabahaya.
“Mungkin karena mengingat pesan dari orang tua, sampai saya kadang merasa takut jika tidak membuat seperti ini,” katanya kemarin di rumahnya Jl Rappocini Raya.
Selain membuat bubur, Dg. Sunggu juga meyakini 10 Muharram merupakan hari baik untuk membeli peralatan rumah tangga atau pakaian dalam. Alasannya dianggap sebagai hari kemenangan.
(arp)