Indonesia Dinilai Mampu Hadirkan Kehangatan di Tengah Ketegangan G20
Muhajirin
Rabu, 16 November 2022 - 22:30 WIB
Presiden Joko Widodo mengajak para kepala delegasi KTT G20 menanam mangrove (bakau) di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Ngurah Rai, Bali, Rabu (16/11/2022) (foto: LANGIT7.ID/Muhajirin)
Eks Duta Besar Indonesia untuk Australia dan Tiongkok, Prof. Imron Cotan, menilai Indonesia berhasil memainkan peran sebagai presidensi KTT G20 di Bali pada 15-16 November 2022. Sebagai tuan rumah, Indonesia bisa menghadirkan kehangatan sehingga negara-negara yang sedang ‘tegang’ bisa duduk bersama.
Ada dua aspek yang melatarbelakangi keberhasilan tersebut. Pertama, dari segi kuantitas. Indonesia berhasil mengumpulkan 17 kepala negara yang tergabung dalam G20. Tiga kepala negara yang tidak hadir adalah Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Brasil Jair Bolsonaro, dan Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador.
Dari sisi ini, Indonesia memiliki peluang menjadi juru damai perang Rusia-Ukraina. Memang tujuan itu sangat sulit, dan sudah menjadi salah satu poin dalam Deklarasi Pemimpin G20 yang dirilis pada Rabu (16/11/2022).
“Gencatan senjata sampai pada perjanjian damai Rusia-Ukraina, itu yang tersulit dari deklarasi itu, karena keberhasilan dari Ukraina mengangkat pertikaian bilateralnya dengan Rusia ke tingkat regional dan global, sehingga Presiden Putin tidak hadir dalam KTT G20,” kata Imron dalam webinar yang digelar Partai Gelora, Rabu sore (16/11/2022).
Kedua, dari sisi kualitas. pimpinan G20 sudah mengeluarkan deklarasi untuk mengakomodir perbedaan persaingan global. Salah satunya persaingan antara NATO-Amerika Serikat dengan Rusia.
“Di sisi lain, ada juga persaingan global yang berdampak regional, termasuk persaingan antara Amerika Serikat dengan China. Walaupun suasananya ternyata antiklimaks, tadi kita berpikir Joe Biden dan Xi Jinping akan terjadi ketegangan dalam KTT G20, ternyata tidak,” ucap Imron.
Ketegangan Joe Biden dan Xi Jinping ternyata bisa surut peran Indonesia yang menghadirkan suasana yang harmonis dan hangat. Selain itu, negara-negara G20 sudah sering bertemu dalam forum internasional, sehingga 17 kepala negara sudah memiliki semacam kemistri saat tiba di Bali.
Ada dua aspek yang melatarbelakangi keberhasilan tersebut. Pertama, dari segi kuantitas. Indonesia berhasil mengumpulkan 17 kepala negara yang tergabung dalam G20. Tiga kepala negara yang tidak hadir adalah Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Brasil Jair Bolsonaro, dan Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador.
Dari sisi ini, Indonesia memiliki peluang menjadi juru damai perang Rusia-Ukraina. Memang tujuan itu sangat sulit, dan sudah menjadi salah satu poin dalam Deklarasi Pemimpin G20 yang dirilis pada Rabu (16/11/2022).
“Gencatan senjata sampai pada perjanjian damai Rusia-Ukraina, itu yang tersulit dari deklarasi itu, karena keberhasilan dari Ukraina mengangkat pertikaian bilateralnya dengan Rusia ke tingkat regional dan global, sehingga Presiden Putin tidak hadir dalam KTT G20,” kata Imron dalam webinar yang digelar Partai Gelora, Rabu sore (16/11/2022).
Kedua, dari sisi kualitas. pimpinan G20 sudah mengeluarkan deklarasi untuk mengakomodir perbedaan persaingan global. Salah satunya persaingan antara NATO-Amerika Serikat dengan Rusia.
“Di sisi lain, ada juga persaingan global yang berdampak regional, termasuk persaingan antara Amerika Serikat dengan China. Walaupun suasananya ternyata antiklimaks, tadi kita berpikir Joe Biden dan Xi Jinping akan terjadi ketegangan dalam KTT G20, ternyata tidak,” ucap Imron.
Ketegangan Joe Biden dan Xi Jinping ternyata bisa surut peran Indonesia yang menghadirkan suasana yang harmonis dan hangat. Selain itu, negara-negara G20 sudah sering bertemu dalam forum internasional, sehingga 17 kepala negara sudah memiliki semacam kemistri saat tiba di Bali.