Perpusnas Writers Festival 2022: Bertemunya Penulis dan Pembaca
Redaksi
Kamis, 17 November 2022 - 06:00 WIB
Sejumlah pembicara hadir di Perpusnas Writer Festival 2022 hari pertama, Rabu (16/11/2022). (Foto: dok. Perpusnas)
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) kembali menggelar Perpusnas Writers Festival (PWF). Bermodal kesuksesan tahun lalu, event kali ini berlangsung selama lima hari (16-22 November) dengan tema "Menulis, Memberdayakan, dan Mengabadikan".
"Acara Perpusnas Writers Festival ini membuat Perpusnas tidak hanya menjadi tempat bersua pembaca, tetapi tempat penulis bertegur sapa dengan pembaca," kata Ahmad Fuadi, salah satu narasumber hari pertama PWF di Teater Perpusnas, Jakarta, Rabu (16/11/2022).
Fuadi membeberkan pengalaman menulisnya didapatkan dari pembiasaan diri dan belajar terus menerus. Menurutnya, penulis perlu mempersiapkan dan membiasakan diri sebelum sampai pada panggilan menulis.
Baca Juga:Taman Literasi di Blok M Sediakan Ruang Baca hingga Panggung Apung
Selain itu, Fuadi mengatakan bahwa membaca merupakan pengalaman intim antara suara penulis dan pembaca yang mendengarkan suara yang ingin disampaikan. "Menulislah dari hati agar sampai ke hati pembaca," ujar penulis novel 'Ranah 3 Warna' itu.
Hal senada juga diutarakan Eka Kurniawan. Penulis novel 'Seperti Dendam', 'Rindu Harus Dibayar Tuntas' itu menyampaikan pengalaman menulisnya dimulai dari kebiasaan membaca. Bahkan, sewaktu kecil, tidak terpikirkan olehnya untuk menjadi penulis.
"Yang terpikirkan ya cita-cita lain seperti anak-anak kecil dan remaja pada umumnya. Tapi memang saya senang membaca dan mendengarkan dongeng," ucap Eka.
"Acara Perpusnas Writers Festival ini membuat Perpusnas tidak hanya menjadi tempat bersua pembaca, tetapi tempat penulis bertegur sapa dengan pembaca," kata Ahmad Fuadi, salah satu narasumber hari pertama PWF di Teater Perpusnas, Jakarta, Rabu (16/11/2022).
Fuadi membeberkan pengalaman menulisnya didapatkan dari pembiasaan diri dan belajar terus menerus. Menurutnya, penulis perlu mempersiapkan dan membiasakan diri sebelum sampai pada panggilan menulis.
Baca Juga:Taman Literasi di Blok M Sediakan Ruang Baca hingga Panggung Apung
Selain itu, Fuadi mengatakan bahwa membaca merupakan pengalaman intim antara suara penulis dan pembaca yang mendengarkan suara yang ingin disampaikan. "Menulislah dari hati agar sampai ke hati pembaca," ujar penulis novel 'Ranah 3 Warna' itu.
Hal senada juga diutarakan Eka Kurniawan. Penulis novel 'Seperti Dendam', 'Rindu Harus Dibayar Tuntas' itu menyampaikan pengalaman menulisnya dimulai dari kebiasaan membaca. Bahkan, sewaktu kecil, tidak terpikirkan olehnya untuk menjadi penulis.
"Yang terpikirkan ya cita-cita lain seperti anak-anak kecil dan remaja pada umumnya. Tapi memang saya senang membaca dan mendengarkan dongeng," ucap Eka.