Resesi Seks Terjadi di Jepang dan Korsel Akibat Pengabaian Agama
Muhajirin
Selasa, 29 November 2022 - 16:16 WIB
Bendera Korea Selatan dan Jepang (foto: langit7.id/istock)
Jepang dan Korea Selatan mengalami resesi seks yang mengakibatkan terjadinya penurunan populasi penduduk. Resesi seks adalah keengganan seseorang atau pasangan suami istri untuk memiliki anak, atau memilih untuk memiliki sedikit anak.
Melansir The Guardian, pada tahun 2021, jumlah kelahiran di Jepang mencapai 811.604, angka ini terendah sepanjang sejarah Jepang. Lalu melansir AP News, Pemerintah Korsel mencatat tingkat kesuburan 0,81% pada 2021. Idealnya, satu negara harus memiliki tingkat kesuburan 2,1% untuk menjaga populasi.
Founder Ngaji Jodoh, Ustadz Oki Aryono, menilai, resesi seks terjadi saat masyarakat mengabaikan agama serta menganggap menikah dan berkeluarga sebagai beban. Hal itu sejalan dengan laporan The Guardian yang mengatakan, wanita Jepang saat ini enggan menikah dan memiliki anak. Menurut mereka, dua hal tersebut membutuhkan banyak biaya.
Baca Juga: Hikmah Islam Larang LGBT: Terbukti Bisa Hancurkan Peradaban Manusia
“Jika agama diabaikan. Nikah dan keluarga dianggap beban. Seks yang penting suka sama suka, tidak peduli nikah atau enggak,” kata Ustadz Oki kepada Langit7.id, Senin (28/11/2022).
Melansir The Guardian, pada tahun 2021, jumlah kelahiran di Jepang mencapai 811.604, angka ini terendah sepanjang sejarah Jepang. Lalu melansir AP News, Pemerintah Korsel mencatat tingkat kesuburan 0,81% pada 2021. Idealnya, satu negara harus memiliki tingkat kesuburan 2,1% untuk menjaga populasi.
Founder Ngaji Jodoh, Ustadz Oki Aryono, menilai, resesi seks terjadi saat masyarakat mengabaikan agama serta menganggap menikah dan berkeluarga sebagai beban. Hal itu sejalan dengan laporan The Guardian yang mengatakan, wanita Jepang saat ini enggan menikah dan memiliki anak. Menurut mereka, dua hal tersebut membutuhkan banyak biaya.
Baca Juga: Hikmah Islam Larang LGBT: Terbukti Bisa Hancurkan Peradaban Manusia
“Jika agama diabaikan. Nikah dan keluarga dianggap beban. Seks yang penting suka sama suka, tidak peduli nikah atau enggak,” kata Ustadz Oki kepada Langit7.id, Senin (28/11/2022).