Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 30 Mei 2026
home lifestyle muslim detail berita

Resesi Seks Terjadi di Jepang dan Korsel Akibat Pengabaian Agama

Muhajirin Selasa, 29 November 2022 - 16:16 WIB
Resesi Seks Terjadi di Jepang dan Korsel Akibat Pengabaian Agama
Bendera Korea Selatan dan Jepang (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Jepang dan Korea Selatan mengalami resesi seks yang mengakibatkan terjadinya penurunan populasi penduduk. Resesi seks adalah keengganan seseorang atau pasangan suami istri untuk memiliki anak, atau memilih untuk memiliki sedikit anak.

Melansir The Guardian, pada tahun 2021, jumlah kelahiran di Jepang mencapai 811.604, angka ini terendah sepanjang sejarah Jepang. Lalu melansir AP News, Pemerintah Korsel mencatat tingkat kesuburan 0,81% pada 2021. Idealnya, satu negara harus memiliki tingkat kesuburan 2,1% untuk menjaga populasi.

Founder Ngaji Jodoh, Ustadz Oki Aryono, menilai, resesi seks terjadi saat masyarakat mengabaikan agama serta menganggap menikah dan berkeluarga sebagai beban. Hal itu sejalan dengan laporan The Guardian yang mengatakan, wanita Jepang saat ini enggan menikah dan memiliki anak. Menurut mereka, dua hal tersebut membutuhkan banyak biaya.

Baca Juga: Hikmah Islam Larang LGBT: Terbukti Bisa Hancurkan Peradaban Manusia

“Jika agama diabaikan. Nikah dan keluarga dianggap beban. Seks yang penting suka sama suka, tidak peduli nikah atau enggak,” kata Ustadz Oki kepada Langit7.id, Senin (28/11/2022).

Oki menjelaskan, saat Islam dipinggirkan dari panggung kehidupan, maka siklus kehidupan dan peradaban di bumi akan mengalami goncangan. Norma-norma akan menjadi tidak karuan dan nilai-nilai menjadi jungkir balik.

“Hawa nafsu manusia mencoba mengungkap hakikat dirinya dengan teori-teori yang paling bertentangan dan berlawanan. Bersama dengan teori-teori itu, manusia semakin tidak tahu hakikat dirinya. Tidak tahu mana jalan masuk dan mana jalan keluar. Ia berputar-putar dalam lingkaran setan. Menggelinding tak tentu arah,” ujar Ustadz Oki.

Di sisi lain, Islam menjadikan keturunan sebagai salah satu poin yang harus dijaga dalam kehidupan sosial masyarakat. Ustadz Oki mengutip Kitab Maqashidusy-Syari’ah ‘Inda Ibni Taimiyah yang menyebut menjaga keturunan (hifzhun-nasli) sebagai satu dari lima kebutuhan yang harus dijaga oleh umat Islam.

Baca Juga: Infeksi HIV di Usia Produktif, Ini Hikmah Larangan Zina

Allah Ta'ala berfirman: "Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra: 32).

Bentuk penjagaan agar manusia menghindari zina adalah pernikahan. Bahkan, Islam memperbolehkan pernikahan poligami. Allah berfirman, “Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kami senangi: dua, tiga, atau empat.” (QS. An-Nisa: 3).

Pernikahan merupakan ajaran penting dalam Islam. Hal itu disandarkan pada hadits Rasulullah SAW:
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka hendaklah dia menikah. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah dia melakukan puasa (sunnah). Karena sesungguhnya puasa itu menjadi obat bagi dia.”

Baca Juga: Melacak Tren Positif Taaruf di Indonesia, Antitesis dari Pacaran

Menurut Ustadz Oki, pemeliharaan keturunan tersebut bisa dilihat dari beberapa hal. Di antaranya anjuran untuk melakukan pernikahan, persaksian dalam pernikahan, serta kewajiban memelihara dan memberikan nafkah kepada anak termasuk kewajiban memperhatikan pendidikan anak.

“Kemudian, Islam mengharamkan menikah dengan pezina, melarang memutuskan untuk thalaq jika tidak karena terpaksa, dan mengharamkan ikhtilath (berdua-duaan dengan lawan jenis/pacaran),” ujar Ustadz Oki.

Akankah Resesi Seks Bakal Terjadi di Indonesia?

Menurut Ustadz Oki, resesi seks masih menjadi kosakata asing bagi masyarakat Indonesia. Artinya, secara praktik pun Indonesia menjadikan pernikahan sebagai salah budaya sosial yang terus dipertahankan.

“Ketika banyak negara di dunia mulai mendesakralisasi lembaga perkawinan dan keluarga, trend perkawinan dan membentuk keluarga masih amat positif di Indonesia,” kata Ustadz Oki mengutip tulisan Heru Susetyo, peneliti victimologist berjudul ‘Masih Banyak Kebaikan di Negeri ini’ di Majalah Al Falah YDSF.

Baca Juga: Ini Proses Taaruf yang Baik dan Benar, Bukan Memilih Kucing dalam Karung

Ustadz Oki menjelaskan, Indonesia masih mengalami bonus demografi dengan jumlah penduduk produktif melimpah ruah. Bonus demografi itu berkah. Kehadiran anak, lembaga pernikahan, dan keluarga dianggap penting. Meski bonus demografi bisa menjadi musibah jika tidak dikelola dengan baik.

Selain itu, pernikahan tradisional yang heteroseksual masih menjadi satu-satunya pernikahan yang sah di Indonesia. Meski ada banyak negara di dunia yang melegalkan perkawinan sesama jenis (same sex marriage) sejak 2001. Sebagian negara juga melegalkan cohabitation (kumpul kebo) civil union, domestic partnership, common law marriage, negara Indonesia tetap tidak latah dan tidak genit.

“Indonesia tetap bertahan dengan pernikahan heteroseksual karena pengaruh kuat nilai-nilai agama dan sosial budaya. Pengaruh itu kuat di tengah gempuran liberalisme dan sekularisme Barat. Indonesia juga masih mengutuk perilaku seks sebelum nikah,” ungkap Ustadz Oki.

Baca Juga: Sahkan Perkawinan Beda Agama, PN Tangerang Dinilai Tabrak Fatwa MUI


(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 30 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)