LANGIT7.ID, Jakarta - Belakangan di media sosial tak sedikit kalangan yang meragukan ta'aruf sebagai proses menuju pernikahan. Karena satu dua kasus gagalnya pernikahan melalui ta'aruf, ia diragukan sebagai tahap yang bisa melanggengkan rumah tangga.
Sebagian orang menyebut ta'aruf tak cukup untuk bisa mengenal calon pasangan. Mereka menyimpulkan kalau pacaran masih diperlukan untuk mengenal pasangan lebih dalam.
Founder Ngaji Jodoh, Ustadz Oki Aryono, menegaskan, ta'aruf yang baik dan benar berlawanan justru akan lebih efektif untuk mengenal pasangan ketimbang pacaran. Selain itu, ta'aruf dilakukan dalam rangka menjauhkan diri dari mendekati zina yang bisa muncul dari pacaran.
Baca Juga: Melacak Tren Positif Ta'aruf di Indonesia, Antitesis dari Pacaran
"Karena pria dan wanita -jika bukan mahram- dilarang berduaan, karena itu mendekati zina. Silahkan cari ayat terkait ini dan hadits termaksud. Jangankan di luar rumah, di dalam rumah orang tua sendiri pun dilarang berduaan. Jangankan dengan pacar atau wanita lain, berduaan dengan saudara ipar (lawan jenis) pun dilarang," kata Oki kepada LANGIT7.ID, Rabu (25/5/2022).
Dalam proses taaruf, cara berkenalan pun diperantarai seseorang yang dianggap paham agama. Perantara bisa seorang ustadz atau para senior di dalam organisasi. Proses taaruf juga ada batas waktu yang jelas, misal jarak antara pertama ketemu hingga meminang tidak lebih dar 2-3 bulan.
"Lalu, jarak antara meminang hingga akad nikah tidak lebih dari 3 bulan. Intinya, ada batas waktu yang jelas. Sedangkan pacaran, semuanya serba tidak jelas," ucap Oki.
Pola komunikasi dalam taaruf pun hanya hal-hal utama saja seperti membahas latar belakang keluarga, rencana tinggal pascanikah, membahas persiapan lamaran dan resepsi, serta akad nikah.
Menurut Oki, visi-misi pernikahan perlu dibahas saat taaruf. Sedangkan dalam pacaran, bicara di telepon bisa berjam-jam. Bahkan bisa sampai chatting tentang hal yang tak penting. Hal yang memprihatinkan bisa sampai kirim foto tanpa menutup aurat atau
video call dengan busana seadanya bahkan mengundang syahwat, meskipun itu kepada tunangan.
Baca Juga: Nggak Sembarangan, Begini Proses Ta'aruf Menurut Syariat Islam
"Bukankah belum halal jika belum akad nikah? Sebagaimana jangan buka kemasan makanan minuman sebelum membayar di kasir minimarket. Janganlah buka auratmu jika belum sah, baik secara
online apalagi
offline," tutur Oki.
Beda Pacaran dan Ta'aruf Oki menjelaskan, orang pacaran itu tidak ada batasan komunikasi dan tak ada batasan waktu kapan ketemu antar calon, antar keluarga , dan kapan akad nikah. Hal itu karena pasangan sejoli sudah terbenam dalam kesenangan suasana romantis yang belum waktunya.
"Orang pacaran hanya fokus pada
happy-happy saja. Tidak fokus dengan urusan agama dan menambah ilmu. Bukankah menikah itu bekal terbaik adalah ilmu dan agama? Cek Al Baqarah 197," kata Oki.
Oki khawatir jika menikah hanya bekal romantis saja, maka rumah tangga akan rapuh. Itu karena masa happy-nya sudah habis, sehingga hanya tersisa beban saja. Padahal, jika nikah karena niat ibadah, maka beban dianggap sebagai pahala.
"Semakin berat beban hidup sebagai pasutri/ayah ibu, maka itu pahalanya makin besar. Jangankan menafkahi istri atau anak, mengusap tangan istri/suami itu pun berpahala. Apalagi menafkahi keluarga," jelas Oki.
Orang pacaran juga tidak mengindahkan bekal agama. Semua dianggap angin lalu. Sedangkan dalam taaruf, hal-hal utama itu didiskusikan dalam suasana akhlakul karimah dan musyawarah.
Semua diniati sebagai ibadah yakni menikah sebagai sunnah Nabi. Maka Allah akan memberi jalan yang baik orang kepada orang berniat baik dan memilih cara baik. Sedangkan, pacaran itu bukan cara yang baik.
"Jadi rumusnya: niat baik + cara baik = insya Allah hasil yang baik," tutur Oki.
Baca Juga: 7 Publik Figur Ini Mantap Menikah dengan Proses Ta'aruf
Ta'aruf Bukan Beli Kucing di Dalam Karung Perintah Allah pasti menghasilkan hal-hal baik. Ketidaktahuan bisa menjadi peluang pahala. Jadi, rumus dalam proses ta'aruf ialah mengenai mengenal hal-hal utama dari calon pasangan, lalu berdoa meminta kebaikan pada hal-hal yang tidak diketahui dan hal-hal yang akan terjadi pada masa depan.
"Karena hanya Allah yang Maha Tahu. Doa-doa itu dalam kerangka ketaqwaan kepada Allah. Karena pernikahan itu separuh agama, maka lengkapi setengah lagi dengan takwa. Betapa banyak pernikahan tanpa nafas takwa. Sehingga, di dalamnya isinya hanya duniawi sehingga terjerumus pada dosa dan pengkhianatan," tutur Oki.
(jqf)