Mafia Shalawat di Semarang, Rangkul Preman Cintai Rasulullah
Fajar adhitya
Jum'at, 20 Agustus 2021 - 21:20 WIB
Wapres KH Maruf Amin disambut Abah Ali Mafia Shalawat. (Foto: Antara).
Sebuah majelis di Semarang sering dikunjungi anak-anak jalanan, komunitas punk, preman, dan orang-orang yang lekat dengan dunia kriminal. Mereka berbaur dengan ribuan jamaah lain menyimak ceramah dan menikmati lantunan shalawat.
Mereka berkumpul atas nama Mafia Shalawat, majelis taklim binaan KH Mohammad Ali Shodiqin yang mampu menarik hati para gerombolan ini untuk Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Sebagian orang mengenal majelis ini sebagai pengajian joget-joget.
Sebabnya, saat sesi qasidah atau puji-pujian kepada Rasulullah sebagian jamaah akan berdiri dan berjoget. Bersamaan dengan tabuhan hadrah oleh Grup Semut Ireng yang menghentak-hentak, mereka otomatis melambai-lambaikan tangan ke atas dan mengibar-ngibarkan bendera seperti ada energi ajaib yang mendorong.
Baca Juga: Komunitas Berbagi Nasi Rajin Keliling Kota Cari Orang Dhuafa
"Inilah ciri khas Mafia Shalawat, di baliknya ada yang jogetan dan petakilan, ya itulah warna-warni majelis. Tidak ada yang sempurna makhluknya Allah," katanya dalam sebuah maulid akbar dikutip Youtube Abahali Mafiashalawat, Jumat (20/8/2021).
Saking sering adanya joget-joget, pengajian Mafia Shalawat bahkan dikenal sebagai sebuah konser daripada majelis taklim. Teak jarang, tarian sufi juga dihadirkan untuk menyemarakkan dan menjadi daya tarik metode dakwah majelis Mafia Shalawat.
"Kalau selama ini di-posting yang joget, mohon maaf yang joget itu memang kadang banyak. Apalagi pertama Mafia di Ponorogo, Ngawi, Magetan, jamaahnya puluhan ribu yang joget ngeri loh, yang joget sampai lima ribu orang," katanya.
Mereka berkumpul atas nama Mafia Shalawat, majelis taklim binaan KH Mohammad Ali Shodiqin yang mampu menarik hati para gerombolan ini untuk Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Sebagian orang mengenal majelis ini sebagai pengajian joget-joget.
Sebabnya, saat sesi qasidah atau puji-pujian kepada Rasulullah sebagian jamaah akan berdiri dan berjoget. Bersamaan dengan tabuhan hadrah oleh Grup Semut Ireng yang menghentak-hentak, mereka otomatis melambai-lambaikan tangan ke atas dan mengibar-ngibarkan bendera seperti ada energi ajaib yang mendorong.
Baca Juga: Komunitas Berbagi Nasi Rajin Keliling Kota Cari Orang Dhuafa
"Inilah ciri khas Mafia Shalawat, di baliknya ada yang jogetan dan petakilan, ya itulah warna-warni majelis. Tidak ada yang sempurna makhluknya Allah," katanya dalam sebuah maulid akbar dikutip Youtube Abahali Mafiashalawat, Jumat (20/8/2021).
Saking sering adanya joget-joget, pengajian Mafia Shalawat bahkan dikenal sebagai sebuah konser daripada majelis taklim. Teak jarang, tarian sufi juga dihadirkan untuk menyemarakkan dan menjadi daya tarik metode dakwah majelis Mafia Shalawat.
"Kalau selama ini di-posting yang joget, mohon maaf yang joget itu memang kadang banyak. Apalagi pertama Mafia di Ponorogo, Ngawi, Magetan, jamaahnya puluhan ribu yang joget ngeri loh, yang joget sampai lima ribu orang," katanya.