LANGIT7.ID, Semarang - Sebuah majelis di Semarang sering dikunjungi anak-anak jalanan, komunitas punk, preman, dan orang-orang yang lekat dengan dunia kriminal. Mereka berbaur dengan ribuan jamaah lain menyimak ceramah dan menikmati lantunan shalawat.
Mereka berkumpul atas nama Mafia Shalawat, majelis taklim binaan KH Mohammad Ali Shodiqin yang mampu menarik hati para gerombolan ini untuk Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wasallam. Sebagian orang mengenal majelis ini sebagai pengajian joget-joget.
Sebabnya, saat sesi qasidah atau puji-pujian kepada Rasulullah sebagian jamaah akan berdiri dan berjoget. Bersamaan dengan tabuhan hadrah oleh Grup Semut Ireng yang menghentak-hentak, mereka otomatis melambai-lambaikan tangan ke atas dan mengibar-ngibarkan bendera seperti ada energi ajaib yang mendorong.
Baca Juga: Komunitas Berbagi Nasi Rajin Keliling Kota Cari Orang Dhuafa"Inilah ciri khas Mafia Shalawat, di baliknya ada yang jogetan dan petakilan, ya itulah warna-warni majelis. Tidak ada yang sempurna makhluknya Allah," katanya dalam sebuah maulid akbar dikutip Youtube Abahali Mafiashalawat, Jumat (20/8/2021).
Saking sering adanya joget-joget, pengajian Mafia Shalawat bahkan dikenal sebagai sebuah konser daripada majelis taklim. Teak jarang, tarian sufi juga dihadirkan untuk menyemarakkan dan menjadi daya tarik metode dakwah majelis Mafia Shalawat.
"Kalau selama ini di-posting yang joget, mohon maaf yang joget itu memang kadang banyak. Apalagi pertama Mafia di Ponorogo, Ngawi, Magetan, jamaahnya puluhan ribu yang joget ngeri loh, yang joget sampai lima ribu orang," katanya.
Bersatunya Pikiran dan HatiBagi Abah Ali, sapaannya, dakwah itu merangkul bukan memukul. Semua kalangan, yang baik dan jahat harus merasakan rahmatnya Allah, menikmati kasih sayangnya kanjeng Nabi.
Mafia Shalawat adalah singkatan dari Manunggaling Pikiran Lan Ati Ing Ndalem Shalawat, yang berarti bersatunya pikiran dan hati dalam bershalawat. Sebelum bernama Mafia Shalawat, majelis ini sebenarnya sudah ada pada tahun 2010, dengan nama Bodrek.
Bodrek adalah sebutan awal yang diberikan Abah Ali terhadap kelompok pada majelis ini yang terdiri dari 'bedes-bedes'. Bodrek juga dapat diartikan sebagai salah satu penyakit kepala, bingung, maka dari itulah istilah Bodrek digunakan Abah Ali agar orang yang merasa bingung dan banyak urusan agar dapat ikut pengajian dan mendapat obatnya.
Setelah berjalan tiga tahun, timbul gagasan dari Abah Ali untuk mengganti nama Bodrek dengan nama yang lebih fenomenal dengan keadaan sekarang ini. Kelompok tersebut dinamai dengan Mafia Shalawat dan merangkul orang-orang yang selama ini di cap sebagai sampah Masyarakat.
"Kita melakukan ngaji seperti ini melantunkan shalawat, yang penting saya kan enggak pernah menyuruh anda berjoget. Justru saya tidak suka sebenarnya. Cuma kan yang joget cuma bedes-bedes, ya sudahlah dimaklumi lama-lama kan malu sendiri. Semua butuh proses," tutur Abah Ali.
(bal)