Ma'ruf Amin: Santri Harus Miliki Pola Pikir Wasathiyah dan Kontekstual
Elvin andika
Sabtu, 03 Desember 2022 - 23:45 WIB
Wapres Maruf Amin saat meresmikan Pembukaan Muktamar ke-XV Pondok Pesantren Asadiyah tahun 2022 di Sulawesi Selatan, Sabtu (3/12/2022). (Foto: BPMI Setwapres)
Wakil Presiden RI (Wapres) Ma'ruf Amin mengatakan bahwa pondok pesantren (ponpes) memiliki peran sentral untuk membina generasi muda muslim Indonesia agar mengenal agama secara utuh. Melalui sistem pendidikan dan dakwah Islam wasathiyah (moderat) secara sejuk dan ilmiah, generasi penerus bangsa dapat memiliki pola pikir terbuka dalam menghadapi perkembangan zaman.
"Itulah mengapa pentingnya pesantren dalam rangka (melahirkan) al mutafaqqihinna fiddin (ahli-ahli ilmu agama Islam). Dan Insya Allah yang dilahirkan oleh As’adiyah, yaitu berpikir wasathy, moderat. Tidak berpikir tekstual, dan juga tidak berpikir liberal," kata Ma'ruf Amin saat meresmikan Pembukaan Muktamar ke-XV Pondok Pesantren As’adiyah tahun 2022 di Lapangan Merdeka Siengkang, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Sabtu (3/12/2022).
Ma'ruf Amin menjelaskan pola pikir wasathiyah yang konstektual adalah cara berpikir yang memiliki metode pemecahan masalah sesuai dengan zamannya. Tidak statis, tidak kaku, tidak rigid, tapi juga tidak liberal.
Baca Juga:6 Rekomendasi Majelis Masyayikh Pesantren, Dorong Mutu Pendidikan
"Artinya liberal dia memberikan pendapat-pendapat tanpa metode, tanpa batas dan tidak ada patokannya. Kita memang merespon, tapi dia harus memahami cara-cara dalam memberikan jawaban-jawaban itu. Mampu memberikan solusi-solusi bukan hanya solusi keagamaan tapi juga menyelesaikan masalah kenegaraan," ujar Wapres.
Menurut Ma'ruf Amin, pola pikir seperti ini penting untuk diimplementasikan. Terlebih, tantangan yang dihadapi di setiap harinya terus berkembang.
"Peristiwa-peristiwa, kejadian-kejadian, masalah-masalah politik, ekonomi, sosial itu tidak pernah berhenti. Itu harus disikapi, harus diberi jawaban," ungkap Wapres.
"Itulah mengapa pentingnya pesantren dalam rangka (melahirkan) al mutafaqqihinna fiddin (ahli-ahli ilmu agama Islam). Dan Insya Allah yang dilahirkan oleh As’adiyah, yaitu berpikir wasathy, moderat. Tidak berpikir tekstual, dan juga tidak berpikir liberal," kata Ma'ruf Amin saat meresmikan Pembukaan Muktamar ke-XV Pondok Pesantren As’adiyah tahun 2022 di Lapangan Merdeka Siengkang, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Sabtu (3/12/2022).
Ma'ruf Amin menjelaskan pola pikir wasathiyah yang konstektual adalah cara berpikir yang memiliki metode pemecahan masalah sesuai dengan zamannya. Tidak statis, tidak kaku, tidak rigid, tapi juga tidak liberal.
Baca Juga:6 Rekomendasi Majelis Masyayikh Pesantren, Dorong Mutu Pendidikan
"Artinya liberal dia memberikan pendapat-pendapat tanpa metode, tanpa batas dan tidak ada patokannya. Kita memang merespon, tapi dia harus memahami cara-cara dalam memberikan jawaban-jawaban itu. Mampu memberikan solusi-solusi bukan hanya solusi keagamaan tapi juga menyelesaikan masalah kenegaraan," ujar Wapres.
Menurut Ma'ruf Amin, pola pikir seperti ini penting untuk diimplementasikan. Terlebih, tantangan yang dihadapi di setiap harinya terus berkembang.
"Peristiwa-peristiwa, kejadian-kejadian, masalah-masalah politik, ekonomi, sosial itu tidak pernah berhenti. Itu harus disikapi, harus diberi jawaban," ungkap Wapres.