Fenomena Solstis Terjadi di Indonesia, Siang Lebih Lama dari Biasanya
Ummu hani
Rabu, 21 Desember 2022 - 15:03 WIB
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
Indonesia mengalami fenomena alam Solstis, mulai Rabu (21/12/2022). Puncak fenomena ini nantinya terjadi pada Kamis (22/12/2022) pukul 04.48 WIB.
Peneliti Pusat Riset Sains Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang menjelaskan, Solstis merupakan fenomena astronomis biasa ketika matahari berada di paling utara atau paling selatan ketika mengalami gerak semu tahunannya.
Baca juga: Fenomena Gerhana dalam Islam, Pengingat Hari Penghakiman
“Solstis disebabkan oleh sumbu rotasi bumi yang miring 23,44 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika (sumbu kutub utara-selatan ekliptika),” ungkap Andi, dalam keterangan tertulis, diterima Langit7.id.
Secara umum solstis berdampak pada gerak semu harian matahari, perubahan durasi siang dan malam, dan pergantian musim. Sebab, bumi berotasi secara miring terhadap ekliptika sekaligus mengorbit matahari.
Fenomena alam ini terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada Juni dan Desember. Akibat fenomena ini, negara di selatan garis khatulistiwa, termasuk Indonesia akan memiliki siang yang panjang, hingga lebih dari 12 jam. Sementara di bagian utara akan memiliki malam yang lebih panjang hingga 12 jam.
Solstis Juni terjadi saat Kutub Utara dan belahan Bumi utara condong ke matahari, sedangkan Kutub Selatan dan belahan Bumi selatan menjauhi matahari.
Peneliti Pusat Riset Sains Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Andi Pangerang menjelaskan, Solstis merupakan fenomena astronomis biasa ketika matahari berada di paling utara atau paling selatan ketika mengalami gerak semu tahunannya.
Baca juga: Fenomena Gerhana dalam Islam, Pengingat Hari Penghakiman
“Solstis disebabkan oleh sumbu rotasi bumi yang miring 23,44 derajat terhadap bidang tegak lurus ekliptika (sumbu kutub utara-selatan ekliptika),” ungkap Andi, dalam keterangan tertulis, diterima Langit7.id.
Secara umum solstis berdampak pada gerak semu harian matahari, perubahan durasi siang dan malam, dan pergantian musim. Sebab, bumi berotasi secara miring terhadap ekliptika sekaligus mengorbit matahari.
Fenomena alam ini terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada Juni dan Desember. Akibat fenomena ini, negara di selatan garis khatulistiwa, termasuk Indonesia akan memiliki siang yang panjang, hingga lebih dari 12 jam. Sementara di bagian utara akan memiliki malam yang lebih panjang hingga 12 jam.
Solstis Juni terjadi saat Kutub Utara dan belahan Bumi utara condong ke matahari, sedangkan Kutub Selatan dan belahan Bumi selatan menjauhi matahari.