LANGIT7.ID - , Jakarta -
Fenomena astronomi yang menampakkan seluruh sisinya atau biasa disebut gerhana sudah terjadi sejak zaman
Rasulullah SAW. Gerhana disebut dengan khusuf yang merupakan terputusnya sebagian atau seluruh cahaya Matahari ketika Bulan berada satu garis di antara
Matahari dan Bumi.
Menurut Al-Quran surat
Al Qiyamah ayat 7-10, gerhana merupakan pengingat manusia tentang hari penghakiman, karena Matahari, Bulan, dan Bintang kehilangan cahayanya.
Baca juga: Deretan Fenomena Gerhana Bulan Total Pernah Terlihat di Indonesiaفَاِذَا بَرِقَ الْبَصَرُۙ
Maka apabila mata terbelalak (ketakutan),وَخَسَفَ الْقَمَرُۙ
dan Bulan pun telah hilang cahayanya,وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُۙ
lalu Matahari dan Bulan dikumpulkan,يَقُوْلُ الْاِنْسَانُ يَوْمَىِٕذٍ اَيْنَ الْمَفَرُّۚ
pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?”Namun, orang-orang di masa itu mengaitkan gerhana dengan kematian putra Nabi, sayyidina Ibrahim di Madinah.
Seperti halnya mitos di Indonesia, yang mengaitkan gerhana dengan larangan ibu hamil ke luar rumah. Dalam mitos yang beredar, saat gerhana, ibu hamil harus masuk ke kolong ranjang.
Pendakwah Buya Yahya mengatakan umat Islam dianjurkan untuk mendirikan salat gerhana atau salat khusuf.
"Di zaman nabi, gerhana dikaitkan dengan kematian putra nabi, sayyidina Ibrahim. Baginda Nabi mengatakan 'Gerhana bukan karena putraku wafat. Tapi ini tanda kebesaran Allah. Salatlah," jelas Buya Yahya, dikutip dari channel Youtube Al Bahjah TV, Selasa (8/11/2022).
Baca juga: Niat dan Tata Cara Salat Khusuf, Amalkan Saat Gerhana Bulan TotalSejatinya, baik gerhana Bulan maupun Matahari, merupakan fenomena alam bentuk kekuasaan Allah SWT. Nabi Muhammad Saw berupaya memperbaiki anggapan keliru tentang gerhana.
Ketika fenomena langit ini terjadi, Rasulullah SAW membungkuk dan memanjangkan rukuknya dalam salat. Hadits riwayat Al-Bukhari menyebutkan, Rasulullah semata-mata hanya memuji Allah SWT.
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَكْسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ تَعَالَى فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا وَصَلُّوا
Artinya: Sungguh, gerhana matahari dan bulan tidak terjadi sebab mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Ta’ala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana matahari dan gerhana bulan, bangkit dan shalatlah kalian. (HR Bukhari-Muslim).Nabi memerintahkan seseorang untuk mengumumkan 'as-salatu jami`ah' yaitu salat berjamaah. Ketika orang-orang berkumpul, Rasulullah memimpin jamaah dalam doa.
Salat gerhana atau al-khusuf adalah sunnah muakkadah baik untuk pria dan wanita yang beriman. Ibadah ini lebih baik untuk dilakukan secara berjamaah di masjid.
Baca juga: Jadwal dan Daftar Wilayah Bisa Lihat Gerhana Bulan Total 8 November 2022Waktunya dari awal gerhana sampai habis. Tidak ada adzan untuk salat tetapi harus diumumkan, seperti yang dinyatakan sebelumnya, dengan 'as-salatu jami`ah'.
Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah
radhiyallahu 'anhu, salat khusuf adalah dua rakaat. Namun, jamaah membungkuk dua kali di setiap rakaat, bukan sekali.
Pada rakaat pertama, setelah Al-Fatihah, seseorang membaca surat panjang atau pendek. Kemudian mengucap 'Allahu akbar' dan membungkuk dalam ruku yang panjang. Saat seseorang berdiri, dia berkata: 'sami` Allahu liman hamidah, rabbana lakal-hamd'.
Kemudian kembali mengucap 'Allahu akbar' dan membungkuk untuk kedua kalinya tapi tidak terlalu lama. Saat seseorang berdiri, dia berkata, 'sami` Allahu liman hamidah, rabbana lakal-hamd'.
Lalu kembali berdiri tegak mengucapkan 'Allahu akbar' dan jatuh dalam sujud. Mulai rakaat kedua dengan mengucapkan 'Allahu akbar'. Rakaat kedua dilakukan seperti yang pertama.
Baca juga: Mengenal 3 Jenis Gerhana Bulan dan Proses Terjadinya(est)