Maiyah Tegaskan Posisinya Sebagai Penyambung Islah Rakyat
Fajar adhitya
Rabu, 21 Desember 2022 - 18:32 WIB
Emha Ainun Najib atau Cak Nun dalam Majelis Kenduri Cinta di Jakarta. (Foto: Ahmad Jilul Qurani Farid/Langit7.id)
Cendekiawan dan Budayawan Muslim, Emha Ainun Najib menegaskan posisi Maiyah dengan simpul-simpul majelisnya di berbagai daerah adalah penyambung islah rakyat. Islah artinya memperbaiki, mendamaikan, menghilangkan persengketaan.
“Kita ini jangan salah cita-cita juga. Kapan Maiyah ikut urusan capres dan pemilu, daftar ke Kemendagri (menjadi ormas). Itu tidak akan pernah terjadi,” kata Cak Nun dalam majelis Kenduri Cinta baru-baru ini.
Kenduri Cinta adalah salah satu simpul Maiyah di Jakarta. Hingga saat ini, setidaknya ada 63 titik Simpul Maiyah yang terdata di Koordinator Simpul Maiyah. Kesemuanya tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.
Baca juga:Manfaat Muhasabah: Membersihkan Hati
Cak Nun menjelaskan, majelis Maiyah hadir untuk mendorong ketajaman berpikir para jamaahnya. Bagaimana memiliki keluasan cara pandang, sehingga dapat memahami dialektika kehidupan dengan baik dan benar.
“Pokoknya cara memahami kehidupan sedemikian rupa dan itu sifatnya sangat ruhaniah dan sangat intelektual. Tapi dia tidak boleh menjadi administrasi, tidak boleh menjadi identitas,” kata Cak Nun.
Sahabat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu mengajak jamaah Maiyah senantiasa meningkatkan kapasitas diri, minimal untuk memperindah akhlak diri sendiri. Selebihnya, ia berharap jamaah Maiyah bisa menjadi juru damai.
“Kita ini jangan salah cita-cita juga. Kapan Maiyah ikut urusan capres dan pemilu, daftar ke Kemendagri (menjadi ormas). Itu tidak akan pernah terjadi,” kata Cak Nun dalam majelis Kenduri Cinta baru-baru ini.
Kenduri Cinta adalah salah satu simpul Maiyah di Jakarta. Hingga saat ini, setidaknya ada 63 titik Simpul Maiyah yang terdata di Koordinator Simpul Maiyah. Kesemuanya tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri.
Baca juga:Manfaat Muhasabah: Membersihkan Hati
Cak Nun menjelaskan, majelis Maiyah hadir untuk mendorong ketajaman berpikir para jamaahnya. Bagaimana memiliki keluasan cara pandang, sehingga dapat memahami dialektika kehidupan dengan baik dan benar.
“Pokoknya cara memahami kehidupan sedemikian rupa dan itu sifatnya sangat ruhaniah dan sangat intelektual. Tapi dia tidak boleh menjadi administrasi, tidak boleh menjadi identitas,” kata Cak Nun.
Sahabat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu mengajak jamaah Maiyah senantiasa meningkatkan kapasitas diri, minimal untuk memperindah akhlak diri sendiri. Selebihnya, ia berharap jamaah Maiyah bisa menjadi juru damai.