LANGIT7.ID - , Jakarta - Muhasabah merupakan cara umat muslim
berintrospeksi diri atas perbuatan yang sudah dilakukan. Bila dijalankan, muhasabah dapat mendatangkan banyak manfaat bagi yang menjalaninya.
Pengasuh Pondok Pesantren Rumah Tahfiz Tunarungu Darul A’Shom, Yogyakarta,
Ustaz Abu Kahfi menyebut muhasabah sebagai jalan mengoreksi dan menyerahkan diri kepada Allah SWT.
Dalam buku "Kitab Hayatus Sahabah: Kehidupan Para Sahabat" yang ditulis oleh Maulana Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, disebutkan tentang
muhasabah.
Baca juga: 5 Tema Khutbah Jumat: Muhasabah terhadap Kesalahan dan Dosa"Saat sedang berkumpul di depan Masjid Nabawi, Nabi berkata 'Akan lewat ahli surga', kemudian sahabat yang lain pun penasaran. Kemudian lewatlah seorang sahabat yang bukan sahabat terdekat Nabi sambil menenteng sesuatu yang basah baru dari air wudhu, besoknya juga demikian sampai tiga kali Nabi bilang seperti itu," ujar Ustaz Abu Kahfi kepada Langit7, Rabu (21/12/2022).
Kemudian, lanjut Ustaz Abu Kahfi, seorang sahabat penasaran dengan amalan orang tersebut sehingga disebut Rasulullah sebagai ahli surga. Dia pun meminta izin kepada sahabat yang lewat itu untuk menginap di rumahnya.
"Sampai tiga malam dia menginap, tidak didapati amalan yang luar biasa seperti dzikir malam atau salat malam panjang tidak ada, tetapi Nabi katakan itu ahli surga," lanjut dia.
Setelah hari ketiga sahabat bertanya kepada orang itu, terkait rahasia yang dimiliki sehingga Nabi SAW mengatakannya sebagai ahli surga. Dia mengatakan, amalan yang istiqamah setiap malam dilakukannya adalah sebelum tidur ia terbiasa mengoreksi diri sendiri atau muhasabah.
"Nah, yang muhasabah begini Nabi katakan sebagai ahli surga. Jadi muhasabah ini manfaatnya pertama untuk membersihkan hati karena semua amalan yang diterima didasari dengan hati yang ikhlas," katanya.
Baca juga: Muhasabah Awal Tahun, KH Zainuddin MZ Ungkap Tentang Orang Bangkrut di Negeri AkhiratMenurut Ustaz Abu Kahfi, saat seseorang merasa sudah berbuat kebaikan dan menggunakannya dengan sempuran, sesungguhnya belum siap amal tersebut diterima Allah SWT. Sebab, hal tersebut terdapat sifat riya atau sombong.
Akan tetapi, jika Anda merasa belum beramal dan sempurna maka hal inilah yang diterima oleh Allah. Artinya, Allah SWT hanya menerima amalan ikhlas saja.
Rasulullah SAW berkata, sungguh beruntung orang yang selalu melihat kekurangan diri dan melihat kelebihan orang.
"Inilah orang yang selalu bermuhasabah selalu melihat kekurangan diri," tutur Ustaz Abu Kahfi.
Lebih lanjut, dia menjelaskan terkait hal-hal yang harus diperhatikan ketika bermuhasabah.
"Ketika bermuhasabah yang harus diperhatikan kita duduk menyucikan diri dulu kepada Allah. Kemudian menghakimi diri sendiri bahwa kita tadi berbuat salah dan berbuat kurang. Hadapkan diri kita kepada Allah itu lemah, ini yang harus kita perlu persiapkan merasa lemah dan tidak punya apa-apa. Semua kehendak Allah," imbuhnya.
Baca juga: Malam Tahun Baru, UAS Sarankan Takmir Masjid Gelar Pengajian dan Muhasabah"Setelah begini, maka kita akan terbuka kekurangan kita. Tetapi kalau kita merasa sudah cukup dan mencari kekurangan orang, maka memang muhasabah ini yang tahu amalannya hanya Allah," tegas Ustaz Abu Kahfi.
(est)