Alissa Wahid: Yatim akibat Pandemi Lebih Berat, Perlu Pendampingan Berbagai Pihak
Muhajirin
Senin, 23 Agustus 2021 - 18:01 WIB
Alissa Wahid (foto: nu.or.id)
Jumlah anak-anak yang kehilangan orang tua dan menjadi yatim akibat pandemi Covid-19 terus bertambah. Data Satgas Penanganan Covid-19 menunjukkan, per 20 Juli 2021 ada 11.045 anak menjadi yatim piatu, yatim atau piatu akibat pandemi Covid-19.
Menanggapi hal itu, Psikolog anak dan keluarga, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau yang akrab disapa Alissa Wahid mengatakan, kehilangan orang tua pada kondisi pandemi Covid-19 merupakan stressor atau situasi eksternal yang secara potensial mengancam dan bahaya besar bagi anak.
Di masa pandemi, kehilangan orang tua lebih berat, karena tanpa persiapan dan prosesnya sangat pendek. Apalagi anak-anak belum mandiri.
Hal itu mengakibatkan anak-anak akan kehilangan keberlangsungan hidup di masa depan. Mereka tidak punya bayangan apa yang akan terjadi di masa depan, karena masih belum dewasa. Selain itu, ia menilai anak-anak korban Covid-19 akan menderita berlipat ganda karena kehilangan sistem pendukung utamanya.
Kendati anak-anak yatim itu diasuh oleh keluarga besar, namun sistem penopang kehidupan utama mereka tetap hilang. Orang tua tidak bisa tergantikan bagi keberlangsungan hidup atau tumbuh kembang anak di masa depan. Terlebih bagi anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang.
“Jadi, tidak semua keluarga besar bisa menjalankan peran atau fungsi pengasuhan secara utuh, ini yang dihadapi anak-anak yatim piatu akibat Covid-19,” kata Alissa Wahid dalam diskusi Ketika Pandemi Meningkatkan Jumlah Yatim Piatu, dikutip dari laman NU Online, Senin (23/8/20210).
Alissa Wahid lalu menjabarkan tiga tahapan pendampingan anak-anak korban Covid-19. Pertama, pendampingan awal untuk proses grieving (tahapan saat seseorang berduka) seperti denial shock, marah, frustasi yang terpendam, depresi, penerimaan, dan adaptasi.
Menanggapi hal itu, Psikolog anak dan keluarga, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau yang akrab disapa Alissa Wahid mengatakan, kehilangan orang tua pada kondisi pandemi Covid-19 merupakan stressor atau situasi eksternal yang secara potensial mengancam dan bahaya besar bagi anak.
Di masa pandemi, kehilangan orang tua lebih berat, karena tanpa persiapan dan prosesnya sangat pendek. Apalagi anak-anak belum mandiri.
Hal itu mengakibatkan anak-anak akan kehilangan keberlangsungan hidup di masa depan. Mereka tidak punya bayangan apa yang akan terjadi di masa depan, karena masih belum dewasa. Selain itu, ia menilai anak-anak korban Covid-19 akan menderita berlipat ganda karena kehilangan sistem pendukung utamanya.
Kendati anak-anak yatim itu diasuh oleh keluarga besar, namun sistem penopang kehidupan utama mereka tetap hilang. Orang tua tidak bisa tergantikan bagi keberlangsungan hidup atau tumbuh kembang anak di masa depan. Terlebih bagi anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang.
“Jadi, tidak semua keluarga besar bisa menjalankan peran atau fungsi pengasuhan secara utuh, ini yang dihadapi anak-anak yatim piatu akibat Covid-19,” kata Alissa Wahid dalam diskusi Ketika Pandemi Meningkatkan Jumlah Yatim Piatu, dikutip dari laman NU Online, Senin (23/8/20210).
Alissa Wahid lalu menjabarkan tiga tahapan pendampingan anak-anak korban Covid-19. Pertama, pendampingan awal untuk proses grieving (tahapan saat seseorang berduka) seperti denial shock, marah, frustasi yang terpendam, depresi, penerimaan, dan adaptasi.