LANGIT7.ID, Jakarta - Jumlah anak-anak yang kehilangan orang tua dan menjadi yatim akibat pandemi Covid-19 terus bertambah. Data Satgas Penanganan Covid-19 menunjukkan, per 20 Juli 2021 ada 11.045 anak menjadi yatim piatu, yatim atau piatu akibat pandemi Covid-19.
Menanggapi hal itu, Psikolog anak dan keluarga, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau yang akrab disapa Alissa Wahid mengatakan, kehilangan orang tua pada kondisi pandemi Covid-19 merupakan stressor atau situasi eksternal yang secara potensial mengancam dan bahaya besar bagi anak.
Di masa pandemi, kehilangan orang tua lebih berat, karena tanpa persiapan dan prosesnya sangat pendek. Apalagi anak-anak belum mandiri.
Hal itu mengakibatkan anak-anak akan kehilangan keberlangsungan hidup di masa depan. Mereka tidak punya bayangan apa yang akan terjadi di masa depan, karena masih belum dewasa. Selain itu, ia menilai anak-anak korban Covid-19 akan menderita berlipat ganda karena kehilangan sistem pendukung utamanya.
Kendati anak-anak yatim itu diasuh oleh keluarga besar, namun sistem penopang kehidupan utama mereka tetap hilang. Orang tua tidak bisa tergantikan bagi keberlangsungan hidup atau tumbuh kembang anak di masa depan. Terlebih bagi anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang.
“Jadi, tidak semua keluarga besar bisa menjalankan peran atau fungsi pengasuhan secara utuh, ini yang dihadapi anak-anak yatim piatu akibat Covid-19,” kata Alissa Wahid dalam diskusi Ketika Pandemi Meningkatkan Jumlah Yatim Piatu, dikutip dari laman NU Online, Senin (23/8/20210).
Alissa Wahid lalu menjabarkan tiga tahapan pendampingan anak-anak korban Covid-19. Pertama, pendampingan awal untuk proses grieving (tahapan saat seseorang berduka) seperti denial shock, marah, frustasi yang terpendam, depresi, penerimaan, dan adaptasi.
Hal itu penting dilakukan dan tidak bisa didampingi oleh orang awam karena tidak punya kelengkapan sebagai psikolog. Keluarga besar harus hadir mendampingi anak saat menyaksikan orang tuanya meninggal. Keluarga besar harus memberikan motivasi penuh kasih sayang.
Kedua, pendampingan psikososial jangka panjang. Poin ini juga penting karena berkaitan dengan adaptasi si anak. Ketiga, sistem pendukung dan perlindungan sosial jangka panjang untuk keberlangsungan hidup agar anak-anak terjamin kesejahteraannya.
“Hal itu tidak hanya diketahui kepada orang yang dewasa saja, tapi perlu disampaikan kepada anak-anak agar mereka punya informasi yang cukup untuk diserap,” ucap putri Gus Dur ini.
Alissa Wahid menekankan, proses dan kebutuhan setiap balita, anak usia sekolah dasar, dan remaja berbeda. Dia mencontohkan balita, ketika mendengar orang tuanya meninggal, mereka hanya akan menangis, setelah itu kembali seperti biasa.
Sementara anak-anak sekolah dasar, memiliki kesulitan untuk mengungkapkan segalanya dengan cara lebih baik. Maka itu, mereka harus dibantu agar bisa mengekspresikan kedukaan dan kebingungan dengan cara yang lebih non-direktif atau cara pendekatan terhadap permasalahan yang bersifat tidak langsung.
Sementara anak-anak remaja menghadapi dua tantangan. Pertama, kehidupan remaja secara natural sudah menyulitkan mereka sendiri. Kedua, sadar tanggung jawab.
“Mereka sudah sadar keberlangsungan hidup yang jungkir balik, sehingga bebannya menjadi berlipat ganda,” pungkas Alissa.
(jqf)