Lumpuh hingga Koma, Awas Ini Bahaya Shaken Baby Syndrome
Fifiyanti Abdurahman
Jum'at, 06 Januari 2023 - 09:02 WIB
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
Konten kreator Ria Ricis mendapat sorotan usai mengajak sang anak Cut Raifa Aramoana bermain jetski saat liburan di Bali. Usia Moana yang baru menginjak 5 bulan dianggap tidak tepat karena dapat membahayakan keselamatannya.
Shaken baby syndrome menjadi salah satu potensi berbahaya yang dapat terjadi dalam situasi tersebut. Lalu apa itu shaken baby syndrome?
Baca juga: Pola Pengasuhan Berpengaruh pada Kualitas Kepemimpinan Anak di Masa Depan
Dokter Spesialis Bedah Saraf, Dr. dr. I Wayan Niryana, M.Kes, Sp.BS(K) Vaskular, mengatakan, shaken baby syndrome adalah gejala yang terjadi akibat guncangan terlalu keras pada kepala. Bila kondisi tersebut dilakukan terus menerus dapat berdampak buruk pada otak anak, bahkan merenggut nyawanya.
dr Niryana menjelaskan, bayi memiliki otak yang masih lunak, pembuluh darah yang tipis, dan otot leher yang lemah. Karenanya, ketika mendapatkan guncangan yang kuat, seperti ayunan keras saat ditenangkan atau dilempar ke udara ketika bermain, leher bayi yang belum bisa menyanggah kepalanya dengan baik bisa terhentak ke depan dan belakang dengan cepat.
"Hal tersebut bisa menyebabkan otak bayi terguncang di dalam tempurung kepala. Akibatnya, otak bisa bergeser dan mengalami robekan saraf. Selain itu, pembuluh darah di dalam maupun di sekitar otak, termasuk di mata, juga bisa mengalami robekan dan perdarahan," kata dr Niryana, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Jumat (6/1/2022).
"Gejala yang mungkin timbul pada bayi dengan shaken baby syndrome adalah koma atau tidak sadarkan diri, syok, kejang, dan tidak bisa bergerak atau lumpuh," tambahnya.
Shaken baby syndrome menjadi salah satu potensi berbahaya yang dapat terjadi dalam situasi tersebut. Lalu apa itu shaken baby syndrome?
Baca juga: Pola Pengasuhan Berpengaruh pada Kualitas Kepemimpinan Anak di Masa Depan
Dokter Spesialis Bedah Saraf, Dr. dr. I Wayan Niryana, M.Kes, Sp.BS(K) Vaskular, mengatakan, shaken baby syndrome adalah gejala yang terjadi akibat guncangan terlalu keras pada kepala. Bila kondisi tersebut dilakukan terus menerus dapat berdampak buruk pada otak anak, bahkan merenggut nyawanya.
dr Niryana menjelaskan, bayi memiliki otak yang masih lunak, pembuluh darah yang tipis, dan otot leher yang lemah. Karenanya, ketika mendapatkan guncangan yang kuat, seperti ayunan keras saat ditenangkan atau dilempar ke udara ketika bermain, leher bayi yang belum bisa menyanggah kepalanya dengan baik bisa terhentak ke depan dan belakang dengan cepat.
"Hal tersebut bisa menyebabkan otak bayi terguncang di dalam tempurung kepala. Akibatnya, otak bisa bergeser dan mengalami robekan saraf. Selain itu, pembuluh darah di dalam maupun di sekitar otak, termasuk di mata, juga bisa mengalami robekan dan perdarahan," kata dr Niryana, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Jumat (6/1/2022).
"Gejala yang mungkin timbul pada bayi dengan shaken baby syndrome adalah koma atau tidak sadarkan diri, syok, kejang, dan tidak bisa bergerak atau lumpuh," tambahnya.