LANGIT7.ID - , Jakarta - Konten kreator
Ria Ricis mendapat sorotan usai mengajak sang anak Cut Raifa Aramoana bermain
jetski saat liburan di Bali. Usia Moana yang baru menginjak 5 bulan dianggap tidak tepat karena dapat membahayakan keselamatannya.
Shaken baby syndrome menjadi salah satu potensi berbahaya yang dapat terjadi dalam situasi tersebut. Lalu apa itu
shaken baby syndrome? Baca juga: Pola Pengasuhan Berpengaruh pada Kualitas Kepemimpinan Anak di Masa DepanDokter Spesialis Bedah Saraf, Dr. dr. I Wayan Niryana, M.Kes, Sp.BS(K) Vaskular, mengatakan,
shaken baby syndrome adalah gejala yang terjadi akibat guncangan terlalu keras pada kepala. Bila kondisi tersebut dilakukan terus menerus dapat berdampak buruk pada otak anak, bahkan merenggut nyawanya.
dr Niryana menjelaskan, bayi memiliki otak yang masih lunak, pembuluh darah yang tipis, dan otot leher yang lemah. Karenanya, ketika mendapatkan guncangan yang kuat, seperti ayunan keras saat ditenangkan atau dilempar ke udara ketika bermain, leher bayi yang belum bisa menyanggah kepalanya dengan baik bisa terhentak ke depan dan belakang dengan cepat.
"Hal tersebut bisa menyebabkan otak bayi terguncang di dalam tempurung kepala. Akibatnya, otak bisa bergeser dan mengalami robekan saraf. Selain itu, pembuluh darah di dalam maupun di sekitar otak, termasuk di mata, juga bisa mengalami robekan dan perdarahan," kata dr Niryana, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, Jumat (6/1/2022).
"Gejala yang mungkin timbul pada bayi dengan
shaken baby syndrome adalah koma atau tidak sadarkan diri, syok, kejang, dan tidak bisa bergerak atau lumpuh," tambahnya.
Baca juga: Orang Tua Wajib Hadir dalam Tumbuh Kembang Anak, Ini AlasannyaMengguncang atau mengayun bayi dengan cara yang tidak benar pun dapat membahayakan keselamatan bayi. Baik sengaja atau tidak, guncangan yang terlalu keras saat mengayun dapat menyebabkan kerusakan pada otaknya. Cedera yang terjadi ini disebut sebagai
shaken baby syndrome.
"Shaken baby syndrome dikatakan sebagai salah satu bentuk kekerasan pada anak, berupa guncangan kepala hebat yang menyebabkan perdarahan retina dan perdarahan otak," terang dr Niryana.
Bahkan, sindrom ini menjadi salah satu penyebab utama kematian dan gangguan saraf pada anak akibat kekerasan. Sebanyak 95 persen cedera otak dan 64 persen cedera kepala pada anak berusia kurang dari 1 tahun disebabkan oleh tindak kekerasan pada anak.
Ditambahkan dr Niryana, sindrom ini sebagian besar terjadi pada anak di bawah 2 tahun. Shaken baby syndrome yang disengaja umumnya dilakukan oleh laki–laki, ayah, atau pengasuh anak.
Baca juga: Ini Usia Ideal Menyekolahkan Anak menurut Pakar NeuroparentingOrang tua yang mengalami stres secara sosial, biologis, atau finansial rentan melakukan perilaku impulsif dan agresif. Cedera otak yang terjadi khas dan tidak sesuai dengan riwayat jatuh, kejang, atau trauma kepala lain.
"Saat bayi atau anak mengalami guncangan yang hebat, otak mengalami perputaran atau pergeseran terhadap aksisnya (batang otak). Hal ini menyebabkan robekan saraf dan pembuluh darah, menyebabkan kerusakan dan perdarahan otak," tutup dr Niryana.
(est)