Kemenkes Gunakan Sains dan Teknologi untuk Redam Kenaikan Kasus Covid-19
Hasanah syakim
Jum'at, 06 Januari 2023 - 20:15 WIB
ilustrasi (foto: LANGIT7.ID/ iStock)
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan sejumlah inisiatif untuk meredam kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia. Langkah yang dilakukan berupa pemanfaatan dari sisi sains dan teknologi, guna memproses indentifikasi jenis atau varian virus.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi G. Sadikin mengatakan langkah ini dinilai penting karena semua lonjakan kasus yang terjadi di seluruh dunia, disebabkan bukan oleh pergerakan atau mobilitas. Akan tetapi, karena adanya varian baru.
"Sehingga varian-varian baru ini perlu diidentifikasi secara rutin dan diketahui pola penyebarannya seperti apa," kata Budi dalam keterangannnya dikutip Jum'at (6/1/2022).
Baca juga:Pakar Hukum: Penggunaan Dana Zakat untuk Politik Bisa Dipidana
Tercatat pada akhir Desember 2020, Indonesia baru berhasil mengidentifikasi sekitar 140 varian baru yang dilakukan selama 9 bulan di 16 laboratorium. Kini, jumlah laboratorium dan kemampuan identifikasi varian baru di Indonesia telah berkembang pesat.
”Sekarang di Desember 2022 ini, kita sudah tumbuh dari 16 lab menjadi 41 lab, dengan 56 alat. Dan kita sudah berhasil meningkatkan secara drastis kapasitas sequencing kita yang tadinya cuma 140 dalam 9 bulan, menjadi di atas 5 ribu dalam waktu sebulan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Budi menerangkan inisiatif lain adalah menyiapkan kebutuhan oksigen di rumah sakit serta bagi masyarakat yang membutuhkan. Sebab, kata Budi ketika terjadi lonjakan kasus variian Delta, sempat terjadi kelangkaan oksigen di masyarakat.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi G. Sadikin mengatakan langkah ini dinilai penting karena semua lonjakan kasus yang terjadi di seluruh dunia, disebabkan bukan oleh pergerakan atau mobilitas. Akan tetapi, karena adanya varian baru.
"Sehingga varian-varian baru ini perlu diidentifikasi secara rutin dan diketahui pola penyebarannya seperti apa," kata Budi dalam keterangannnya dikutip Jum'at (6/1/2022).
Baca juga:Pakar Hukum: Penggunaan Dana Zakat untuk Politik Bisa Dipidana
Tercatat pada akhir Desember 2020, Indonesia baru berhasil mengidentifikasi sekitar 140 varian baru yang dilakukan selama 9 bulan di 16 laboratorium. Kini, jumlah laboratorium dan kemampuan identifikasi varian baru di Indonesia telah berkembang pesat.
”Sekarang di Desember 2022 ini, kita sudah tumbuh dari 16 lab menjadi 41 lab, dengan 56 alat. Dan kita sudah berhasil meningkatkan secara drastis kapasitas sequencing kita yang tadinya cuma 140 dalam 9 bulan, menjadi di atas 5 ribu dalam waktu sebulan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Budi menerangkan inisiatif lain adalah menyiapkan kebutuhan oksigen di rumah sakit serta bagi masyarakat yang membutuhkan. Sebab, kata Budi ketika terjadi lonjakan kasus variian Delta, sempat terjadi kelangkaan oksigen di masyarakat.