Ekonom Soroti Sulitnya Lapangan Kerja di Tengah Maraknya TKA Cina
Muhajirin
Jum'at, 10 Februari 2023 - 11:15 WIB
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Ekonom Senior INDEF, Prof Didik J Rachbini, mengungkap fenomena memprihatinkan di Indonesia. Lapangan kerja sulit, akan tetapi Tenaga Kerja Asing (TKA) Cina sangat banyak masuk ke Tanah Air.
Menurutnya, keputusan politik untuk ekonomi sangat penting dan berpengaruh besar terhadap kelangsungan ekonomi nasional. Bisa dikatakan, 90 persen dari ekonomi adalah politik dan politik adalah ekonomi dalam persentase yang sama.
“Kebijakan ekonomi penting untuk mengantisipasi dampak makro dari krisis global, yang paling utama adalah mengatasi dampak negatifnya berupa pengangguran yang meningkat pesat,” kata Didik dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (9/2/2023).
Baca Juga:UMKM Berperan Dorong Perekonomian Lokal dan Serap Tenaga Kerja
Dia menegaskan, pengangguran yang meningkat pesat harus diperhatikan sebagai hal yang penting luar biasa. Menurut dia, satu anggota keluarga menganggur dalam keluarga dengan ekonomi sederhana, maka sudah menjadi “kiamat”. Apalagi, jika keluarga itu tidak punya asuransi dan tabungan.
“Maka bayangkan jika tingkat pengangguran suatu negara mencapai 7 persen dan pasti akan menjadi masalah sosial politik,” kata Didik.
Menurutnya, keputusan politik untuk ekonomi sangat penting dan berpengaruh besar terhadap kelangsungan ekonomi nasional. Bisa dikatakan, 90 persen dari ekonomi adalah politik dan politik adalah ekonomi dalam persentase yang sama.
“Kebijakan ekonomi penting untuk mengantisipasi dampak makro dari krisis global, yang paling utama adalah mengatasi dampak negatifnya berupa pengangguran yang meningkat pesat,” kata Didik dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (9/2/2023).
Baca Juga:UMKM Berperan Dorong Perekonomian Lokal dan Serap Tenaga Kerja
Dia menegaskan, pengangguran yang meningkat pesat harus diperhatikan sebagai hal yang penting luar biasa. Menurut dia, satu anggota keluarga menganggur dalam keluarga dengan ekonomi sederhana, maka sudah menjadi “kiamat”. Apalagi, jika keluarga itu tidak punya asuransi dan tabungan.
“Maka bayangkan jika tingkat pengangguran suatu negara mencapai 7 persen dan pasti akan menjadi masalah sosial politik,” kata Didik.