Terancam Tenggelam oleh Pasir, Kota Ini Cetak Penghafal Qur’an Terbaik se-Dunia
Muhajirin
Sabtu, 18 Maret 2023 - 20:20 WIB
Kota Syinqith, Mauritania (foto: istimewa)
Syinqith, sebuah kota kuno yang terletak di Mauritania, Afrika Utara, yang terancam tenggelam oleh gurun pasir. Kota ini menghadapi ancaman pasir penggurunan yang terus meluas dan melenyapkan wilayah seluas 260 hektar dengan kecepatan 48 km per tahun.
Sebagai kota yang memiliki tradisi menghafal Al Qur’an terbaik, Syinqith menjadi kawasan yang sangat dihormati dan disegani tokoh ulama di belahan dunia manapun. Kota ini didirikan pada abad ke-8 dan menjadi tempat persinggahan papra peziarah untuk menuju Mekkah, sekaligus menjadi pusat perdagangan yang sangat penting pada abad pertengahan.
Mengutip kabarpedia, selama berabad-abad, kota ini menjadi tempat berkumpulnya peziarah dari Maghrib dalam perjalanan menuju Mekkah. Meskipun dulu dihuni oleh sekitar 20.000 orang, kini hanya ribuan orang yang tinggal di sana dan bertahan dalam kondisi yang terancam.
Baca Juga:Bahagianya Penghafal Quran, Ketidaknyaman dan Kesulitan Proses Jadi Berkah
Kebanyakan rumah di Syinqith dibangun dari batu kering kemerahan dan teknik bata lumpur dengan atap datar yang terbuat dari pohon palem. Bangunan utama yang tampak mencolok di kota ini adalah Masjid Jami Syinqith, yang menampilkan menara persegi yang dibangun pada abad ke-13 atau abad ke-14 dan diyakini sebagai menara tertua kedua yang terus digunakan di seluruh dunia Muslim.
Meskipun hampir tenggelam oleh pasir, masyarakat Syinqith memiliki tradisi keilmuan yang sangat hebat dan dikenal memiliki kekuatan ingatan yang luar biasa, kemampuan dan kecepatan menghafal, sekaligus memiliki budaya menghafal Al Qur'an yang terbaik di dunia.
Dalam tradisi masyarakat Syinqith, seorang anak yang berusia 7 tahun namun belum hafal Al Qur’an akan dianggap sebagai aib. Anak-anak di Syinqith telah mendapatkan pendidikan Al Qur’an bahkan sejak mereka dalam kandungan.
Sebagai kota yang memiliki tradisi menghafal Al Qur’an terbaik, Syinqith menjadi kawasan yang sangat dihormati dan disegani tokoh ulama di belahan dunia manapun. Kota ini didirikan pada abad ke-8 dan menjadi tempat persinggahan papra peziarah untuk menuju Mekkah, sekaligus menjadi pusat perdagangan yang sangat penting pada abad pertengahan.
Mengutip kabarpedia, selama berabad-abad, kota ini menjadi tempat berkumpulnya peziarah dari Maghrib dalam perjalanan menuju Mekkah. Meskipun dulu dihuni oleh sekitar 20.000 orang, kini hanya ribuan orang yang tinggal di sana dan bertahan dalam kondisi yang terancam.
Baca Juga:Bahagianya Penghafal Quran, Ketidaknyaman dan Kesulitan Proses Jadi Berkah
Kebanyakan rumah di Syinqith dibangun dari batu kering kemerahan dan teknik bata lumpur dengan atap datar yang terbuat dari pohon palem. Bangunan utama yang tampak mencolok di kota ini adalah Masjid Jami Syinqith, yang menampilkan menara persegi yang dibangun pada abad ke-13 atau abad ke-14 dan diyakini sebagai menara tertua kedua yang terus digunakan di seluruh dunia Muslim.
Meskipun hampir tenggelam oleh pasir, masyarakat Syinqith memiliki tradisi keilmuan yang sangat hebat dan dikenal memiliki kekuatan ingatan yang luar biasa, kemampuan dan kecepatan menghafal, sekaligus memiliki budaya menghafal Al Qur'an yang terbaik di dunia.
Dalam tradisi masyarakat Syinqith, seorang anak yang berusia 7 tahun namun belum hafal Al Qur’an akan dianggap sebagai aib. Anak-anak di Syinqith telah mendapatkan pendidikan Al Qur’an bahkan sejak mereka dalam kandungan.