Umbar Aib di Media Sosial Sama Saja Meremehkan Dosa-Dosa Kecil
Muhajirin
Senin, 20 Maret 2023 - 08:40 WIB
Ilustrasi mendapatkan informasi di media sosial. Foto: LANGIT7/iStock
Perkembangan teknologi digital menjadi jalan media sosial lekat dengan kehidupan manusia. Mengunggah kegiatan sehari-hari di media sosial menjadi hal yang wajar dilakukan.
Hanya saja, pada kenyataannya, banyak orang yang mengunggah kehidupan pribadi hingga membuka aib dan perbuatanmaksiat. Mabuk-mabukan, berjudi, mengonsumsi makanan haram diumumkan secara terbuka hingga menjadi konsumsi publik.
Baca juga: Sikap Bijak Muslimah, Jangan Adukan Aib Suami ke Orang Lain
Mubalig dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta, Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah mengatakan dosa dan aib itu ditutupi bukan diviralkan.
Dalam sebuah hadist disebutkan,
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Artinya: “Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, “Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.”
Hanya saja, pada kenyataannya, banyak orang yang mengunggah kehidupan pribadi hingga membuka aib dan perbuatanmaksiat. Mabuk-mabukan, berjudi, mengonsumsi makanan haram diumumkan secara terbuka hingga menjadi konsumsi publik.
Baca juga: Sikap Bijak Muslimah, Jangan Adukan Aib Suami ke Orang Lain
Mubalig dan pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta, Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah mengatakan dosa dan aib itu ditutupi bukan diviralkan.
Dalam sebuah hadist disebutkan,
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ
Artinya: “Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, “Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.”