Opini
Memaknai Keberkahan Ramadhan
Imam shamsi ali - presiden nusantara foundation
Kamis, 23 Maret 2023 - 09:40 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7/iStock.
Kita mengetahui bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh dengan ragam kebaikan dan manfaat. Berbagai kebaikan atau manfaat itu tersimpulkan dalam satu kata “barokah”. Sehingga bulan Ramadan dimaknai sebagai bulan yang padanya ada “azziyadatu fil khaer” (kebaikan yang banyak).
Sayangnya seringkali keberkahan atau nilai tambah Ramadan itu dimaknai secara terbatas pada aspek ritual. Sehingga kepedulian mayoritas Umat tertuju pada ragam amalan ritual di dalamnya seperti puasa itu sendiri, tarawih, tilawah Al-Quran, dzikir, dan lain-lain. Lebih sempit lagi ketika amalan-amalan ritual itu bertujuan untuk sekedar kalkulasi-kalkulasi pahala.
Baca juga: Bahagianya Penghafal Quran, Ketidaknyaman dan Kesulitan Proses Jadi Berkah
Kalkulasi-kalkulasi itu menjadikan amalan-amalan ritual bagaikan “bargaining” dengan Allah. Seolah Allah itu perlu disuap dengan amalan-amalan ritual demi mendapatkan “sesuatu” darinya. Pada tingkatan ini sesungguhnya telah menjadikan nilai “keikhlasan” terminimalisir bahkan sirna.
Dan tanpa sadar ternyata terjadi sikap yang tidak etis kepada Allah SWT. Benar ada kata “isytara” (transaksi antara Allah dan hamba) sebagai penggambaran komitmen ketaatan seorang hamba pada Tuhannya. Tapi itu tidak dimaksudkan sebagai kalkulasi-kalkulasi yang harus terjadi antara hamba dan Tuhannya.
Keberkahan Ramadan hendaknya dipahami dengan makna yang lebih luas dan komprehensif. Bahwa Ramadan adalah bulan berbagai ritual yang pahalanya dilipat gandakan itu pasti. Amalan-amalan wajib dilipat gandakan pahalanya. Sunnah-sunnah dinilai dengan penilaian amalan wajib. Umrah misalnya di bulan Ramadan dimaknai seolah amalan haji.
Bulan Ramadan ini memang dahsyat. Kita kenal bahwa Allah melebihkan sebagian waktu dan/atau tempat tertentu di atas waktu dan tempat yang lain. Ada waktu-waktu atau tempat-tempat tertentu yang yang diberikan keutamaan (fadhilah) lebih dari lainnya.
Sayangnya seringkali keberkahan atau nilai tambah Ramadan itu dimaknai secara terbatas pada aspek ritual. Sehingga kepedulian mayoritas Umat tertuju pada ragam amalan ritual di dalamnya seperti puasa itu sendiri, tarawih, tilawah Al-Quran, dzikir, dan lain-lain. Lebih sempit lagi ketika amalan-amalan ritual itu bertujuan untuk sekedar kalkulasi-kalkulasi pahala.
Baca juga: Bahagianya Penghafal Quran, Ketidaknyaman dan Kesulitan Proses Jadi Berkah
Kalkulasi-kalkulasi itu menjadikan amalan-amalan ritual bagaikan “bargaining” dengan Allah. Seolah Allah itu perlu disuap dengan amalan-amalan ritual demi mendapatkan “sesuatu” darinya. Pada tingkatan ini sesungguhnya telah menjadikan nilai “keikhlasan” terminimalisir bahkan sirna.
Dan tanpa sadar ternyata terjadi sikap yang tidak etis kepada Allah SWT. Benar ada kata “isytara” (transaksi antara Allah dan hamba) sebagai penggambaran komitmen ketaatan seorang hamba pada Tuhannya. Tapi itu tidak dimaksudkan sebagai kalkulasi-kalkulasi yang harus terjadi antara hamba dan Tuhannya.
Keberkahan Ramadan hendaknya dipahami dengan makna yang lebih luas dan komprehensif. Bahwa Ramadan adalah bulan berbagai ritual yang pahalanya dilipat gandakan itu pasti. Amalan-amalan wajib dilipat gandakan pahalanya. Sunnah-sunnah dinilai dengan penilaian amalan wajib. Umrah misalnya di bulan Ramadan dimaknai seolah amalan haji.
Bulan Ramadan ini memang dahsyat. Kita kenal bahwa Allah melebihkan sebagian waktu dan/atau tempat tertentu di atas waktu dan tempat yang lain. Ada waktu-waktu atau tempat-tempat tertentu yang yang diberikan keutamaan (fadhilah) lebih dari lainnya.