Menggali Pelajaran dari Erupsi Krakatau yang Picu Tsunami Tahun 1883 dan 2018
Redaksi
Jum'at, 27 Agustus 2021 - 16:58 WIB
Erupsi Gunung Anak Krakatau pada tahun 2018 (foto: itb.ac.id)
Tsunami tidak hanya dipicu oleh fenomena gempa bumi tetapi juga peristiwa alam lain, seperti erupsi gunung api dan longsor di bawah laut. Melihat dari pengalaman kebencanaan, masyarakat Indonesia dapat belajar dari dampak tsunami yang diakibatkan letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau tahun 2018 dan Gunung Krakatau tahun 1883 atau 138 tahun silam.
Pengurangan risiko bencana menjadi kunci dalam mencegah maupun menghindari dampak bencana di kawasan pesisir Selat Sunda, baik itu akibat letusan Gunung Anak Krakatau maupun potensi gempa dari segmen tektonik di sebelah barat-selatan Selat Sunda.
Memahami dengan baik kejadian bencana di masa lalu merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya mitigasi di masa depan. Untuk itu, pembelajaran dari kejadian bencana yang telah terjadi perlu didokumentasikan dan disampaikan, baik itu kepada masyarakat secara langsung maupun kepada media sebagai sarana edukasi dan sosialisasi kesiapsiagaan.
Dalam konteks inilah BNPB menyelenggarakan webinar edukasi kebencanaan dengan tema ‘Disaster, Decision dan Development : Tsunami Krakatau 1883 dan 2018 serta Pembelajarannya untuk Mitigasi ke Depan.’
Dari pemaparan narasumber, kita dapat belajar mengenai beberapa hal sebagai pengetahuan dalam membangun kesiapsiagaan. Peneliti Indonesia di GNS Science New Zealand Dr. Aditya Gusman menekankan, kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana geologi ke depan dapat mengambil pembelajaran tsunami yang dipicu aktivitas Gunung Krakatau yang terjadi pada tahun 1883 dan 2018.
Aditya menyampaikan gelombang tsunami bisa terjadi akibat caldera collapse dan pyroclastic flow.Pada tsunami 1883 rendaman tsunami akibat erupsi Krakatau mencapai jarak hingga 5 km ke daratan di wilayah Pandeglang, 800 m di Cianyer.
Kejadian ini juga ‘memutus’ Ujung Kulon terpisah dari bagian Pulau Jawa akibat rendaman tsunami. Jejak nyata dari tsunami di Sungai Cianyer masih bisa terlihat hingga kini dari bagian-bagian dari menara mercusuar yang terbawa oleh tsunami Krakatau di sungai tersebut.
Pengurangan risiko bencana menjadi kunci dalam mencegah maupun menghindari dampak bencana di kawasan pesisir Selat Sunda, baik itu akibat letusan Gunung Anak Krakatau maupun potensi gempa dari segmen tektonik di sebelah barat-selatan Selat Sunda.
Memahami dengan baik kejadian bencana di masa lalu merupakan salah satu kunci keberhasilan upaya mitigasi di masa depan. Untuk itu, pembelajaran dari kejadian bencana yang telah terjadi perlu didokumentasikan dan disampaikan, baik itu kepada masyarakat secara langsung maupun kepada media sebagai sarana edukasi dan sosialisasi kesiapsiagaan.
Dalam konteks inilah BNPB menyelenggarakan webinar edukasi kebencanaan dengan tema ‘Disaster, Decision dan Development : Tsunami Krakatau 1883 dan 2018 serta Pembelajarannya untuk Mitigasi ke Depan.’
Dari pemaparan narasumber, kita dapat belajar mengenai beberapa hal sebagai pengetahuan dalam membangun kesiapsiagaan. Peneliti Indonesia di GNS Science New Zealand Dr. Aditya Gusman menekankan, kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana geologi ke depan dapat mengambil pembelajaran tsunami yang dipicu aktivitas Gunung Krakatau yang terjadi pada tahun 1883 dan 2018.
Aditya menyampaikan gelombang tsunami bisa terjadi akibat caldera collapse dan pyroclastic flow.Pada tsunami 1883 rendaman tsunami akibat erupsi Krakatau mencapai jarak hingga 5 km ke daratan di wilayah Pandeglang, 800 m di Cianyer.
Kejadian ini juga ‘memutus’ Ujung Kulon terpisah dari bagian Pulau Jawa akibat rendaman tsunami. Jejak nyata dari tsunami di Sungai Cianyer masih bisa terlihat hingga kini dari bagian-bagian dari menara mercusuar yang terbawa oleh tsunami Krakatau di sungai tersebut.