Memaknai Keberkahan Ramadan
Imam Shamsi Ali
Selasa, 11 April 2023 - 07:30 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
“Bulan Ramadhan adalah bulan di mana Al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia iktikaf dan penjelasan-penjelasan tentang petunjuk dan sebagai Furqan (pembeda antara kebenaran dan kebatilan” (Al-Quran S. Al-Baqarah: 185).
Manusia itu dilahirkan dengan karakter dasarnya yang fitrah (suci). Hanya saja, di satu sisi dalam tatanan diri manusia ada dorongan hawa nafsu sebagai pendorong (engine) bagi keberlanjutan hidup dunianya. Pada sisi lain, dunia tempat manusia menumpang sementara ini begitu dahsyat dalam godaan dan tipu daya.
Akibatnya manusia yang awalnya berkarakter fitrah itu berubah. Dari karakter yang baik dan lurus menjadi karakter yang seringkali penuh dengan keburukan dan kesesatan. Manusia yang awalnya makhluk Allah yang terbaik (ahsanu taqwiim) dan mulia (karromna) berubah menjadi makhluk jahat dan hina (asfala safiliin).
Baca juga:Memburu Lailatul Qadar di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Seperti Beribadah Seribu Bulan
Atas kasih sayang (rahmah) Allah yang maha luas didatangkanlah para Rasul dan nabi untuk mengingatkan kembali kefitrahan manusia itu. Pesan yang dibawa para Rasul itulah yang terangkum dalam Kitab-Kitab Suci sepanjang sejarah manusia. Al-Quran adalah Pesan (risalah) terakhir dan final untuk seluruh Umat manusia.
Al-Quran adalah Kalam Allah yang mi’jizah, diturunkan kepada Muhammad, dan membacanya merupakan ibadah ritual. Kitab Al-Quran sejak awal disimpan di Lauhul Mahfudz. Lalu di sebuah malam Ramadan diturunkan ke langit yang terdekat yang disebut “langit bumi” (samaa ad-dunya). Malam diturunkannya Al-Quran secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz ke “samaa dunya” ini dikenal dengan malam laelatul Qadr.
Dari samaa dunya (langit terdekat ke bumi) inilah kemudian diturunkan secara berangsur ke Rasulullah SAW dalam masa kurang lebih 23 tahun. Ada yang turun di periode Mekah yang dikenal dengan ayat-Ayat Makkiyah. Ada pula yang diturunkan di periode Madinah yang dikenal dengan ayat-ayat Madaniyah.
Manusia itu dilahirkan dengan karakter dasarnya yang fitrah (suci). Hanya saja, di satu sisi dalam tatanan diri manusia ada dorongan hawa nafsu sebagai pendorong (engine) bagi keberlanjutan hidup dunianya. Pada sisi lain, dunia tempat manusia menumpang sementara ini begitu dahsyat dalam godaan dan tipu daya.
Akibatnya manusia yang awalnya berkarakter fitrah itu berubah. Dari karakter yang baik dan lurus menjadi karakter yang seringkali penuh dengan keburukan dan kesesatan. Manusia yang awalnya makhluk Allah yang terbaik (ahsanu taqwiim) dan mulia (karromna) berubah menjadi makhluk jahat dan hina (asfala safiliin).
Baca juga:Memburu Lailatul Qadar di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Seperti Beribadah Seribu Bulan
Atas kasih sayang (rahmah) Allah yang maha luas didatangkanlah para Rasul dan nabi untuk mengingatkan kembali kefitrahan manusia itu. Pesan yang dibawa para Rasul itulah yang terangkum dalam Kitab-Kitab Suci sepanjang sejarah manusia. Al-Quran adalah Pesan (risalah) terakhir dan final untuk seluruh Umat manusia.
Al-Quran adalah Kalam Allah yang mi’jizah, diturunkan kepada Muhammad, dan membacanya merupakan ibadah ritual. Kitab Al-Quran sejak awal disimpan di Lauhul Mahfudz. Lalu di sebuah malam Ramadan diturunkan ke langit yang terdekat yang disebut “langit bumi” (samaa ad-dunya). Malam diturunkannya Al-Quran secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz ke “samaa dunya” ini dikenal dengan malam laelatul Qadr.
Dari samaa dunya (langit terdekat ke bumi) inilah kemudian diturunkan secara berangsur ke Rasulullah SAW dalam masa kurang lebih 23 tahun. Ada yang turun di periode Mekah yang dikenal dengan ayat-Ayat Makkiyah. Ada pula yang diturunkan di periode Madinah yang dikenal dengan ayat-ayat Madaniyah.