Kisah Harmintono Lestarikan Aksara Jawa Lewat Penulisan Mushaf Al-Qur’an
Muhajirin
Jum'at, 05 Mei 2023 - 10:00 WIB
Kisah Harmintono melestarikan aksara Jawa lewat penulisan Mushaf Al-Quran
R.T. Harmintono Puro Budoyo, Sekretaris DPD Permadani (Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia) Kabupaten Klaten, memiliki keprihatinan setelah pensiun PNS Kominfo Pemda Klaten. Dia suka membaca-baca berbagai hal.
Namun, ia merasa miris ketika mendapati bahwa banyak orang Jawa dari berbagai usia, terutama para guru, yang kurang memahami dan tidak bisa menulis aksara Jawa dengan benar. Menurut Harmintono, kurangnya pemahaman dan penutur bahasa Jawa bisa berakibat pada punahnya bahasa dan aksara Jawa.
R.T. Harmintono Puro Budoyo, Sekretaris DPD Permadani Kabupaten Klaten
“Jangan-jangan nanti bahasa dan aksara jawa ini benar-benar punah, karena kurangnya pemahaman dan penutur bahasa jawa, terlebih lagi dengan aksara jawa yang dikenal dengan aksara hanacaraka,” kata Harmintono kepada Langit7.id, Jumat (5/5/2023).
Baca juga:Inilah Sosok NU Tulen yang Layak Menjadi Cawapres
Tidak bisa dipungkiri, kata dia, bahasa tutur harian orang-orang Jawa, terutama yang masih kategori keluarga muda, lebih banyak yang menggunakan bahasa Indonesia, Inggris atau bahasa lainnya. Hal itu mengakibatkan lidah anak-anak sekarang sulit untuk membedakan antara “da” dan “dha”, seperti kata “adil” dan “andil” dalam bahasa Indonesia.
Sebagai bentuk usaha untuk melestarikan bahasa dan aksara Jawa, Harmintono dan teman-temannya mencoba membuat aplikasi aksara Jawa. Itu nantinya akan dikenalkan kepada masyarakat melalui aplikasi android atau aplikasi lainnya.
Namun, ia merasa miris ketika mendapati bahwa banyak orang Jawa dari berbagai usia, terutama para guru, yang kurang memahami dan tidak bisa menulis aksara Jawa dengan benar. Menurut Harmintono, kurangnya pemahaman dan penutur bahasa Jawa bisa berakibat pada punahnya bahasa dan aksara Jawa.
R.T. Harmintono Puro Budoyo, Sekretaris DPD Permadani Kabupaten Klaten
“Jangan-jangan nanti bahasa dan aksara jawa ini benar-benar punah, karena kurangnya pemahaman dan penutur bahasa jawa, terlebih lagi dengan aksara jawa yang dikenal dengan aksara hanacaraka,” kata Harmintono kepada Langit7.id, Jumat (5/5/2023).
Baca juga:Inilah Sosok NU Tulen yang Layak Menjadi Cawapres
Tidak bisa dipungkiri, kata dia, bahasa tutur harian orang-orang Jawa, terutama yang masih kategori keluarga muda, lebih banyak yang menggunakan bahasa Indonesia, Inggris atau bahasa lainnya. Hal itu mengakibatkan lidah anak-anak sekarang sulit untuk membedakan antara “da” dan “dha”, seperti kata “adil” dan “andil” dalam bahasa Indonesia.
Sebagai bentuk usaha untuk melestarikan bahasa dan aksara Jawa, Harmintono dan teman-temannya mencoba membuat aplikasi aksara Jawa. Itu nantinya akan dikenalkan kepada masyarakat melalui aplikasi android atau aplikasi lainnya.