Siapakah yang Harus Diikuti saat Terjadi Banyak Perselisihan?
Muhajirin
Sabtu, 13 Mei 2023 - 05:00 WIB
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof Yahya Zainul Maarif (Buya Yahya).
Perselisihan dalam beragama seringkali terjadi. Berbagai pendapat, tafsiran, dan keyakinan berbeda-beda muncul dan kadangkala menimbulkan konflik. Di tengah situasi seperti itu, siapa sebaiknya yang harus diikuti?
Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menjelaskan, tokoh yang harus diikuti bukan yang paling banyak atau yang paling sedikit diikuti.
“Yang harus diikuti adalah yang paling benar, terlepas dari jumlah pengikutnya. Namun, jika situasinya di Indonesia, ulama adalah yang harus diikuti sebagai jumhur umat,” kata Buya Yahya dalam tausiahnya, Kamis (11/5/2023).
Menurut Buya Yahya, saat terjadi perselisihan, penting untuk memperhatikan kebenaran, bukan sekadar mengikuti mayoritas atau minoritas. Dalam konteks tertentu, seperti di Indonesia, mayoritas umat Islam mengikuti mazhab Syafi'i.
“Tapi, kalua pertanyaannya adalah terlepas dari keadaan sebuah tempat, maka yang paling benar, dong. Biarpun banyak orangnya (pengikutinya), tapi kalausalah, katakan ‘salah ini’,” ujar Buya Yahya.
Baca juga:Bukan Sekadar Gerakan, Shalat Bentuk Karakter Seorang Muslim
Menurut Buya Yahya, ketika terdapat beberapa ulama yang memiliki argumentasi yang kuat, maka setiap muslim harus pandai mencari argument paling kuat. Misalnuya, ada tiga ulama yang hebat dan berhujjah di satu sisi, sedangkan di sisi lain terdapat sepuluh ulama yang hebat dan berhujjah.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menjelaskan, tokoh yang harus diikuti bukan yang paling banyak atau yang paling sedikit diikuti.
“Yang harus diikuti adalah yang paling benar, terlepas dari jumlah pengikutnya. Namun, jika situasinya di Indonesia, ulama adalah yang harus diikuti sebagai jumhur umat,” kata Buya Yahya dalam tausiahnya, Kamis (11/5/2023).
Menurut Buya Yahya, saat terjadi perselisihan, penting untuk memperhatikan kebenaran, bukan sekadar mengikuti mayoritas atau minoritas. Dalam konteks tertentu, seperti di Indonesia, mayoritas umat Islam mengikuti mazhab Syafi'i.
“Tapi, kalua pertanyaannya adalah terlepas dari keadaan sebuah tempat, maka yang paling benar, dong. Biarpun banyak orangnya (pengikutinya), tapi kalausalah, katakan ‘salah ini’,” ujar Buya Yahya.
Baca juga:Bukan Sekadar Gerakan, Shalat Bentuk Karakter Seorang Muslim
Menurut Buya Yahya, ketika terdapat beberapa ulama yang memiliki argumentasi yang kuat, maka setiap muslim harus pandai mencari argument paling kuat. Misalnuya, ada tiga ulama yang hebat dan berhujjah di satu sisi, sedangkan di sisi lain terdapat sepuluh ulama yang hebat dan berhujjah.