LANGIT7.ID-, Jakarta- -
Perselisihan dalam beragama seringkali terjadi. Berbagai pendapat, tafsiran, dan keyakinan berbeda-beda muncul dan kadangkala menimbulkan konflik. Di tengah situasi seperti itu, siapa sebaiknya yang harus diikuti?
Pengasuh Pondok Pesantren Al Bahjah, Prof Yahya Zainul Ma’arif (Buya Yahya), menjelaskan, tokoh yang harus diikuti bukan yang paling banyak atau yang paling sedikit diikuti.
“Yang harus diikuti adalah yang paling benar, terlepas dari jumlah pengikutnya. Namun, jika situasinya di Indonesia, ulama adalah yang harus diikuti sebagai jumhur umat,” kata Buya Yahya dalam tausiahnya, Kamis (11/5/2023).
Menurut Buya Yahya, saat terjadi perselisihan, penting untuk memperhatikan kebenaran, bukan sekadar mengikuti mayoritas atau minoritas. Dalam konteks tertentu, seperti di Indonesia, mayoritas umat Islam mengikuti mazhab Syafi'i.
“Tapi, kalua pertanyaannya adalah terlepas dari keadaan sebuah tempat, maka yang paling benar, dong. Biarpun banyak orangnya (pengikutinya), tapi kalausalah, katakan ‘salah ini’,” ujar Buya Yahya.
Baca juga:
Bukan Sekadar Gerakan, Shalat Bentuk Karakter Seorang MuslimMenurut Buya Yahya, ketika terdapat beberapa ulama yang memiliki argumentasi yang kuat, maka setiap muslim harus pandai mencari argument paling kuat. Misalnuya, ada tiga ulama yang hebat dan berhujjah di satu sisi, sedangkan di sisi lain terdapat sepuluh ulama yang hebat dan berhujjah.
“Bukan berarti harus mengikuti yang jumlahnya lebih sedikit. Yang penting adalah mencari kebenaran dalam argumen yang disampaikan. Semua ulama tersebut memiliki kemungkinan untuk benar, sehingga yang perlu diikuti adalah yang dianggap paling benar berdasarkan penelitian dan pemahaman kita,” ungkap Buya Yahya.
Buya Yahya juga menjelaskan, dalam situasi di Indonesia, di mana mayoritas umat Islam mengikuti Mazhab Syafi'i, tapi bukan berarti merendahkan mazhab lain. Hal ini disesuaikan dengan konteks dan kenyataan di Indonesia.
Dalam perkara fikih, Buya Yahya selalu melihat situasi dan kondisi masyarakat setempat. Jika, masyarakat setempat lebih cocok dengan pendapat fikih Imam Syafi’i, maka yang diajarkan adalah mazhab syafi’i.
“Namun, jika berada di tempat lain, seperti di Bandung, di mana umat Islam lebih mengikuti mazhab Hanafi, maka akan diajarkan sesuai dengan mazhab tersebut,” ungkap Buya Yahya.
Hal terpenting umat Islam harus terus belajar dan memperdalam ilmu agama. Ilmu dan pemahaman terhadap agama Islam yang akan mengantar pada kebenaran. Belajar pada guru penting, tapi tidak boleh bersikap fanatik pada satu ulama saja.
Ada banyak hadits yang mewajibkan setiap muslim menuntut ilmu. Artinya, kewajiban menuntut ilmu bukan tugas ulama saja. Tapi, setiap umat individu umat Islam harus menuntut ilmu agama. Rasulullah SAW bersabda;
“Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR Tabrani)
(ori)