LANGIT7.ID-, Jakarta- -
Shalat merupakan perintah inti bagi setiap muslim. Shalat tidak hanya berperan sebagai rutinitas, namun tiang agama yang membentuk karakter setiap muslim. Bukan hanya gerakan anggota badan, tapi juga perjalanan jiwa untuk mi’raj kepada Allah.
Rasulullah SAW mendapatkan perintah shalat saat Isra’ dan Mmi’raj. Isra Mi’raj merupakan perjalanan suci, bukan sekadar perjalanan ‘wisata’ biasa bagi rasul. Peristiwa ini menjadi perjalanan bersejarah yang menjadi titik balik dari kebangkitan dakwah Rasulullah SAW.
John Renerd dalam buku
In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience mengatakan, Isra Mi’raj adalah satu dari tiga perjalan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW. Isra Mi’raj benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menemouh kesempurnaan dunia spiritual.
Selain itu Sayyed Hossein Nasr dalam buku Muhammad Kekasih Allah (1993) mengungkapkan, pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah saat Mi’raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat.
Baca juga:
Anak Sering Main Game Susah Diajak Shalat, Bagaimana Solusinya?Ketua KODI DKI Jakarta, KH Jamaluddin F. Hasyim, menjelaskan, inti pertemuan Allah dan Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha adalah diturunkan kewajiban paling fundamental dalam Islam, yakni shalat lima waktu. Shalat dilukiskan sebagai tiang agama.
“Jika tiang tersebut rusak atau kurang sempurna, maka agama seseorangpun dikhawatirkan akan rubuh atau tidak sempurna pula,” kata Jamaluddin saat menyampaikan khutbah di Masjid Istiqlal, Jakarta, dikutip Kamis (11/5/2023).
Pengertian shalat yang begitu vital tentuk bukan pengertian shalat dalam bentuk verbal saja. Tetapi, shalat dalam pengertian yang utuh. Shalat yang menjadi sarana pembentukan identitas moral dan karakter sosial.
Seorang muslim dituntut untuk mengedepankan kualitas shalat. Bukan hanya kuantitas saja. Kewajiban shalat yang difokuskan kepada kuantitas saja akan menjadikan diri terbebani dalam menjalakannya.
“Jika kewajiban shalat kita kerjakan dengan mengedepankan kualitas, maka shalat yang dilakukan akan benar-benar bisa dinikmati dan akan berdampak pada perilaku serta kualitas kehidupan kita,” ujar Jamaluddin.
Dari sisi hakikat, shalat memiliki dimensi ibadah ruhani. Di dalam shalat berisi doa-doa untuk mendatangkan ketenangan dan ketentraman jiwa. Hal itu termaktub dalam Surah At-Taubah ayat 104, shalat memberikan ketentraman bagi jiwa.
Selain berbuah ketenangan jiwa, shalat juga akan membuahkan ketentraman bagi orang lain. Itu karena orang yang shalat dengan benar akan membuahkan komitmen untuk tidak berbuat keji dan mungkar. Hal ini bisa dilihat dalam Surah Al Ankabut ayat 45.
Baca juga:
Begini Cara Membuktikan Iman kepada Allah“Namun, batasan shalat seperti ini tampaknya masih kurang diserap maknanya oleh masyarakat kita. Berkembang suburnya budaya korupsi, kolusi, kekerasan, kezaliman, dan lain sebagainya merupakan sebuah fenomena yang sangat memprihatinkan jika mengingat penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam,” tutur Jamaluddin.
Keadaan tersebut membuktikan bahwa shalat hanya dipandang sebagai ritual dan formalitas belaka. Shalat tidak dikaitkan dengan masyarakat dan lingkungan hidup manusia. Agama Islam diturunkan untuk membentuk manusia yang sadar akan jati dirinya sebagai hamba.
Kualitas keimanan dalam Islam selalu dikaitkan dengan amal shalih. Shalat dilekatkan dengan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Puasa beriringan dengan spirit peka terhada sesame manusia. Zakat bertalian dengan kesadaran akan hak-hak fakir miskin. Haji dengan spirit kesetaraan manusia.
“Semoga kita menjadi insan yang betul-betul menjalankan amanah sebagai khalifatullah fil ‘ardhi, yang bertugas untuk menjaga kedamaian, perdamaian, dan ketentraman,” ujar Jamaluddin.
(ori)