LANGIT7.ID-, Jakarta - - Dalam
ajaran Islam,
poligami bagi pria memang diperbolehkan, namun disertai dengan sederet persyaratan yang sangat ketat.
Ulama kharismatik, Buya Yahya melalui kanal YouTube Al-Bahjah TV menegaskan bahwa
poligami bersifat personal dan bukan hal sepele. Menurutnya, aspek mental, finansial, serta kematangan untuk berbuat adil harus terpenuhi.
Baca juga: PA Surabaya Ungkap Fenomena Istri Carikan Calon Madu Bagi SuamiBuya Yahya mengingatkan para pria agar tidak sembarangan melontarkan keinginan
poligami tanpa alasan jelas karena hal itu dapat melukai perasaan istri.
Begitu dengan istri, menurut pandangan
Buya Yahya, jika suami terbukti mampu bersikap adil dan mapan, maka tidak ada alasan kuat untuk menolak poligami yang sesuai dengan tuntunan agama.
“Sesuatu yang dihalalkan dalam syariat, nggak mungkin Anda (istri) mengatakan saya tidak rela dan tidak boleh terjadi,” jelasnya dilihat dari kanal Youtube Al-Bahjah TV, Selasa (27/1/2026).
Sebelum memutuskan, saran
Buya Yahya, sebaiknya istri memperkuat
komunikasi dengan suami dan berserah diri melalui doa agar diberikan kemantapan serta ketabahan sebelum mengambil keputusan.
“Maka yang paling baik Anda membangun komunikasi dengan suami Anda yang baik. Berdoa mengadu kepada Allah, nanti semakin Anda dekat kepada Allah semua permasalahan itu akan hilang," ungkap Buya Yahya.
Menurut Buya Yahya, pendekatan tersebut dapat memberikan dua peluang, yaitu suami batal menikah lagi atau istri telah siap secara emosional bila poligami tetap terjadi.
Buya Yahya menekankan bahwa rasa sakit adalah bagian dari kemanusiaan, namun jangan sampai luka hati tersebut berubah menjadi kemarahan kepada Allah.
Baca juga: Mastur Ngaku Ogah Poligami: Udah Punya Cucu, Mau Ngapain Lagi?“Sebab urusan sakit (hati), orang ditinggal meninggal juga sakit. Apa akan marah kepada Allah? Suami menikah lagi juga sakit, tapi apa akan marah kepada Allah?” ujarnya.
Sebagai upaya meredam rasa sedih, Buya Yahya menyarankan agar suami istri membuat kesepakatan, salah satunya dengan tidak mengumbar pernikahan poligami tersebut kepada khalayak umum.
“Ini adalah sebuah perjanjian dalam rangka tawar-menawar kan,” katanya.
Selain itu, Buya Yahya juga memberikan peringatan keras kepada para suami agar senantiasa bertanggung jawab dalam berpoligami.
Sebab, kata Buya Yahya, membimbing satu istri dan anak saja sudah menjadi beban amanah yang besar.
“Istri tidak dididik anak juga tidak dididik. Tanggung jawabnya satu istri saja besar di hadapan Allah, bagaimana dua?” imbuhnya.
Dampak poligami bagi anak pun tak luput dari perhatian Buya Yahya. Ia menekankan bahwa suasana rumah tangga harus tetap harmonis agar terhindar dari isu miring dan kecemburuan antaranggota keluarga.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Poligami: Pembatasan Bukan Pembebasan"Harus diwaspadai kadang suami yang berpoligami sudah berhati-hati agar adil. Tapi ternyata istrinya tidak benar-benar cara mendidiknya sehingga muncul iri hati dan mengatakan ayahmu tidak adil, dan seterusnya,” terangnya.
Lebih lanjut Buya Yahya menegaskan agar ikatan silaturahmi tidak terputus meski terdapat perbedaan ibu atau ayah.
“Jangan terputus silaturahmi hanya karena ibu yang berbeda atau Ayah yang berbeda. Jangan sampai terjadi perpecahan gara-gara hal yang semacam itu,” tandasnya.
(est)