Ulama Palestina Jelaskan Penyebab Zionis Israel Bombardir Gaza
Muhajirin
Senin, 15 Mei 2023 - 07:00 WIB
Ketua Persatuan Ulama Palestina Diaspora, Syaikh Dr Ahed Abdul Atha
Angkatan Udara Zionis Israel membombardir Jalur Gaza selama tiga hari, mulai Selasa (9/5/2023) sampai Sabtu (14/5/2023). Peristiwa tersebut menyebabkan 33 warga Palestina meninggal dunia.
Ketua Persatuan Ulama Palestina Diaspora, Syaikh Dr Ahed Abdul Atha, menjelaskan, serangan tersebut bermula sejak kematian Syaikh Khader Adnan pada Selasa pagi (2/5/2023). Syaikh Adnan melakukan mogok makan sebagai bentuk perlawanan terhadap penahanan administratif yang dilakukan zionis Israel.
“Serangan Israel ke Gaza tidak bisa dihindari kasus Syekh Khadr Adnan. Syekh Adnan syahid di penjara Israel karena mogok makan selama 86 hari. Dia adalah salah seorang tokoh dan pemimpin di Tepi Barat yang dizalimi dengan aturan tahanan administratif,” kata Dr Ahed di Tebet, Jakarta Selatan, Ahad (14/5/2023).
Baca juga:Perjuangan Wanita Palestina Membela Masjid Al-Aqsa
Dr Ahed menjelaskan, tahanan administratif adalah penahanan tanpa kasus pidana maupun perdata. Orang yang ditahan secara administratif langsung ditahan tanpa dakwaan, tanpa dihakimi, dan tidak ada pengacara.
“Penahanan ini menjadikan Syekh Khadr Adnan melawan dengan mogok makan. Mogok makan sudah dilakukan sudah lebih dari enam kali. Terakhir, beliau mogok makan sampai 86 hari. Beliau hanya minum dan makan garam selama 86 hari,” ujar Dr Ahed.
Syekh Adnan sudah 12 kali ditahan oleh Zionis Israel dan enam kali melakukan mogok makan pada 2012, 2015, dan 2018. Selama itu, permintaan Syekh Adnan dikabulkan. Namun, mogok makan yang ketujuh, Syekh Adnan dibiarkan sampai meninggal dunia.
Ketua Persatuan Ulama Palestina Diaspora, Syaikh Dr Ahed Abdul Atha, menjelaskan, serangan tersebut bermula sejak kematian Syaikh Khader Adnan pada Selasa pagi (2/5/2023). Syaikh Adnan melakukan mogok makan sebagai bentuk perlawanan terhadap penahanan administratif yang dilakukan zionis Israel.
“Serangan Israel ke Gaza tidak bisa dihindari kasus Syekh Khadr Adnan. Syekh Adnan syahid di penjara Israel karena mogok makan selama 86 hari. Dia adalah salah seorang tokoh dan pemimpin di Tepi Barat yang dizalimi dengan aturan tahanan administratif,” kata Dr Ahed di Tebet, Jakarta Selatan, Ahad (14/5/2023).
Baca juga:Perjuangan Wanita Palestina Membela Masjid Al-Aqsa
Dr Ahed menjelaskan, tahanan administratif adalah penahanan tanpa kasus pidana maupun perdata. Orang yang ditahan secara administratif langsung ditahan tanpa dakwaan, tanpa dihakimi, dan tidak ada pengacara.
“Penahanan ini menjadikan Syekh Khadr Adnan melawan dengan mogok makan. Mogok makan sudah dilakukan sudah lebih dari enam kali. Terakhir, beliau mogok makan sampai 86 hari. Beliau hanya minum dan makan garam selama 86 hari,” ujar Dr Ahed.
Syekh Adnan sudah 12 kali ditahan oleh Zionis Israel dan enam kali melakukan mogok makan pada 2012, 2015, dan 2018. Selama itu, permintaan Syekh Adnan dikabulkan. Namun, mogok makan yang ketujuh, Syekh Adnan dibiarkan sampai meninggal dunia.