Cerita Sedih di Sebuah Sore Hari
Imam Shamsi Ali
Rabu, 17 Mei 2023 - 06:13 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali.Foto/ist
Hillside Avenue di Jamaica Queens adalah sebuah jalan utama yang cukup masyhur, khususnya di kalangan masyarakat Asia Selatan yang juga dikenal dengan Komunitas IPB (Indian, Pakistani, Bangladesh). Di jalan inilah tumbuh subur dan berkembang bisnis-bisnis yang dimiliki oleh Komunitas Muslim. Dari toko-toko pakaian Muslimah, restoran hingga ke mini market bahan-bahan makanan halal (halal meat, dll).
Sekitar 1.5 blok dari jalan ini terletak Masjid Al-Mamoor atau yang lebih dikenal dengan Jamaica Muslim Center. JMC (Jamaica Muslim Center) adalah salah satu masjid dengan Komunitas terbesar di kota New York. Di Sholat Jumatan misalnya yang dilakukan dua kali, penuh dengan jamaah yang tidak kurang dari 2000 sekali putaran. Lebaran terbesar menurut estimasi sebagian orang adalah lebaran yang diorganisir oleh Jamaica Muslim Center.
Sebagai Imam (Community leader) di Komunitas ini, saya sekali-sekali berkeliling menyapa anggota komunitas atau jamaah Jamaica Muslim Center. Biasanya saya lakukan itu pada sore hari menjelang Sholat Magrib. Seringkali sambil menikmati segelas “chay” (Indian masala) dan samoza.
Di sebuah sore hari itulah, saya sedang duduk di sebuah “sweet cafe” (kedai kue-kue manis) sambil menikmati pesanan chay dan samboza. Tiba-tiba tanpa permisi seorang pria tua, dengan janggut putih yang agak kusut, wajah dan dahi yang nampak berkeriput, bahkan matanya seperti sedang terdampak alergi musim semi (merah) duduk di kursi depan saya.
“Kiya munasye?”, sapanya dalam bahasa Bangladesh, sambil mengulurkan tangannya ke arah saya untuk jabat tangan.
Sambil menjabat tangannya saya jawab: “baluasyi”.
Beliau rupanya menyangka jika saya orang Bangladesh. Sudah sedemikian lama menjadi makmum, sering mendengarkan khutbah dan ceramah-ceramah saya. Tapi baru kali ini beliau berkesempatan menyapa langsung. Sehingga setelah sapaan di atas, beliau langsung berbicara dalam bahasa Bangladesh ke saya. Saya langsung respon: “I am sorry but I am not a Bengali” (Maaf saya bukan orang Bangladesh).
Sekitar 1.5 blok dari jalan ini terletak Masjid Al-Mamoor atau yang lebih dikenal dengan Jamaica Muslim Center. JMC (Jamaica Muslim Center) adalah salah satu masjid dengan Komunitas terbesar di kota New York. Di Sholat Jumatan misalnya yang dilakukan dua kali, penuh dengan jamaah yang tidak kurang dari 2000 sekali putaran. Lebaran terbesar menurut estimasi sebagian orang adalah lebaran yang diorganisir oleh Jamaica Muslim Center.
Sebagai Imam (Community leader) di Komunitas ini, saya sekali-sekali berkeliling menyapa anggota komunitas atau jamaah Jamaica Muslim Center. Biasanya saya lakukan itu pada sore hari menjelang Sholat Magrib. Seringkali sambil menikmati segelas “chay” (Indian masala) dan samoza.
Di sebuah sore hari itulah, saya sedang duduk di sebuah “sweet cafe” (kedai kue-kue manis) sambil menikmati pesanan chay dan samboza. Tiba-tiba tanpa permisi seorang pria tua, dengan janggut putih yang agak kusut, wajah dan dahi yang nampak berkeriput, bahkan matanya seperti sedang terdampak alergi musim semi (merah) duduk di kursi depan saya.
“Kiya munasye?”, sapanya dalam bahasa Bangladesh, sambil mengulurkan tangannya ke arah saya untuk jabat tangan.
Sambil menjabat tangannya saya jawab: “baluasyi”.
Beliau rupanya menyangka jika saya orang Bangladesh. Sudah sedemikian lama menjadi makmum, sering mendengarkan khutbah dan ceramah-ceramah saya. Tapi baru kali ini beliau berkesempatan menyapa langsung. Sehingga setelah sapaan di atas, beliau langsung berbicara dalam bahasa Bangladesh ke saya. Saya langsung respon: “I am sorry but I am not a Bengali” (Maaf saya bukan orang Bangladesh).