Presiden CECF Amerika: Isu Keberagaman Harus Dimasukkan Kurikulum Pesantren
Muhajirin
Kamis, 25 Mei 2023 - 19:53 WIB
Imam Mohammad Bashar Arafat.
Presiden Civilizations Exchange and Cooperation Foundation (CECF), Prof Imam Mohammad Bashar Arafat, menilai isu keberagaman harus masuk kurikulum pendidikan Islam seperti di Pesantren dan universitas Islam. Menurut dia, keberagaman merupakan keniscayaan yang dihendaki oleh Allah SWT.
Prof Imam menyampaikan hal tersebut dalam Konferensi Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) bertema Agama, Perdamaian, dan Peradaban di Hotel Sultan Jakarta, yang disiarkan TVMUI.
"Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini (Konferensi internasional) untuk fokus membahas konsep isu keberagaman kini, dan bagaimana para tokoh agama dan cendekiawan di berbagai universitas Islam mempersiapkan dirinya untuk menangani isu ini," ujar Prof Imam, dikutip Kamis (25/5/2023).
Prof Imam menekankan agar para tokoh agama dan cendekiawan tidak hanya terkunkung untuk belajar di Indonesia, Asia Tenggara, ataupun di Timur Tengah saja. Tetapi, para tokoh agama juga harus berinteraksi dengan beragam budaya di seluruh dunia.
Baca juga:MUI Dorong RPH Segera Kantongi Sertifikasi Halal
Hal tersebut memang tidak mudah dilakukan. Menurut dia, untuk melakukan hal itu tentu banyak yang harus dipersiapkan. Di antaranya dengan mengkaji isu keberagaman secara serius, baik di pesantren maupun universitas.
Selain merancang kurikulum, bentuk persiapan dalam menangani isu keberagaman dunia adalah memperkuat kemampuan berbahasa asing dan memahami sistem global.
Prof Imam menyampaikan hal tersebut dalam Konferensi Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) bertema Agama, Perdamaian, dan Peradaban di Hotel Sultan Jakarta, yang disiarkan TVMUI.
"Saya ingin memanfaatkan kesempatan ini (Konferensi internasional) untuk fokus membahas konsep isu keberagaman kini, dan bagaimana para tokoh agama dan cendekiawan di berbagai universitas Islam mempersiapkan dirinya untuk menangani isu ini," ujar Prof Imam, dikutip Kamis (25/5/2023).
Prof Imam menekankan agar para tokoh agama dan cendekiawan tidak hanya terkunkung untuk belajar di Indonesia, Asia Tenggara, ataupun di Timur Tengah saja. Tetapi, para tokoh agama juga harus berinteraksi dengan beragam budaya di seluruh dunia.
Baca juga:MUI Dorong RPH Segera Kantongi Sertifikasi Halal
Hal tersebut memang tidak mudah dilakukan. Menurut dia, untuk melakukan hal itu tentu banyak yang harus dipersiapkan. Di antaranya dengan mengkaji isu keberagaman secara serius, baik di pesantren maupun universitas.
Selain merancang kurikulum, bentuk persiapan dalam menangani isu keberagaman dunia adalah memperkuat kemampuan berbahasa asing dan memahami sistem global.