Ulama dan Pemimpin Harus Bersinergi Selesaikan Masalah Global
Muhajirin
Kamis, 01 Juni 2023 - 10:56 WIB
ilustrasi
Pengurus Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI, Yanuardi Syukur, mengatakan, ulama dan pemerintah perlu bersingergi untuk menyelesaikan problem global kontemporer.
"Jika melihat dokumen G20, ASEAN Summit 2023, serta G7 ada banyak sekali problem internasional yang menarik untuk disolusikan dalam perspektif ulama. Sebagai pemimpin civil society, MUI dapat memberikan insights serta langkah-langkah solutif bagi berbagai masalah tersebut dari sudut keagamaan," tutur Yanuardi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (31/5/2023).
Misalnya dalam Komunike Pemimpin G7 Hiroshima pada 20 Mei 2023, para pemimpin G7 memulai dengan urusan perdamaian, khususnya dalam perang Rusia-Ukraina. Isu-isu seperti ‘menuju dunia tanpa senjata nuklir’ dan ‘keamanan mutlak bagi semua’ adalah seruan yang sangat ideal namun perlu diturunkan dalam langkah-langkah nyata.
"Penyelesaian sengketa secara damai juga sangat relevan tidak hanya bagi kepentingan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, inklusif, dan aman bagi relasi antarnegara, tapi juga dalam peran-peran tokoh agama global," tutur Yanuardi.
Satu hal yang cukup penting bagi tokoh agama dalam menciptakan perdamaian global. Para tokoh agama harus menyerukan kepada negara-negara di dunia agar menjaga stabilitas dan membangun hubungan konstruktif jangka panjang dengan negara lainnya.
"Dinamika antara AS versus China sejauh ini masih memanas, apalagi China juga belakangan meningkatkan hubungan diplomatik dengan Rusia. Menyadari itu, G7 misalnya menyerukan agar China menekan Rusia agar menghentikan agresi militernya," tutur Yanuardi.
Memang tidak mudah bagi China untuk melakukan tersebut. Itu karena China dan Rusia adalah satu blok dalam melawan collective west’ yang dianggap ingin mempertahankan hegemoni dan dominasi global.
"Jika melihat dokumen G20, ASEAN Summit 2023, serta G7 ada banyak sekali problem internasional yang menarik untuk disolusikan dalam perspektif ulama. Sebagai pemimpin civil society, MUI dapat memberikan insights serta langkah-langkah solutif bagi berbagai masalah tersebut dari sudut keagamaan," tutur Yanuardi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (31/5/2023).
Misalnya dalam Komunike Pemimpin G7 Hiroshima pada 20 Mei 2023, para pemimpin G7 memulai dengan urusan perdamaian, khususnya dalam perang Rusia-Ukraina. Isu-isu seperti ‘menuju dunia tanpa senjata nuklir’ dan ‘keamanan mutlak bagi semua’ adalah seruan yang sangat ideal namun perlu diturunkan dalam langkah-langkah nyata.
"Penyelesaian sengketa secara damai juga sangat relevan tidak hanya bagi kepentingan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, inklusif, dan aman bagi relasi antarnegara, tapi juga dalam peran-peran tokoh agama global," tutur Yanuardi.
Satu hal yang cukup penting bagi tokoh agama dalam menciptakan perdamaian global. Para tokoh agama harus menyerukan kepada negara-negara di dunia agar menjaga stabilitas dan membangun hubungan konstruktif jangka panjang dengan negara lainnya.
"Dinamika antara AS versus China sejauh ini masih memanas, apalagi China juga belakangan meningkatkan hubungan diplomatik dengan Rusia. Menyadari itu, G7 misalnya menyerukan agar China menekan Rusia agar menghentikan agresi militernya," tutur Yanuardi.
Memang tidak mudah bagi China untuk melakukan tersebut. Itu karena China dan Rusia adalah satu blok dalam melawan collective west’ yang dianggap ingin mempertahankan hegemoni dan dominasi global.